Feeds:
Pos
Komentar

Adegan panas yang dilakukan oleh Andy Soraya pada film Hantu Puncak Datang Bulan bener-bener menggairahkan para pemirsanya. Beberapa adegan dapat membuat tegang semua anggota tubuh manusia. Itu karena serem filmnya, juga karena hot filmnya…
Ada adegan yang bisa diliat hot, yaitu :
a. Saat andy soraya seakan – akan mau melepas branya… terlihat seperti di suatu ruangan. terlihat jelas lekuk tubuhnya yg molek, dan pusaran bundar payudara terlihat samar-samar…
b. Ada adegan sepertinya di kolam renang. Seorang cowok yang akan menyetubuhi seorang wanita yang memakai baju renang yang seksi (cuma bra dan cd ajah). Cowok dengan kepala botak ada diatas dan cewek dengan baju renang warna merah ada di bawah. Wow… maut…. dan ini membuat terangsang orang yang melihat gambarnya. Begitu panas, daya tarik yang luar biasanya dan mungkin penis pemirsa bisa tegang tuuh…. xixixix….
c. Yang lainnya ada yang lebih seru… tp sensooor … sensooor….. tidak baik bagi anak dibawah 18+….

Sekarang ini, produk produk yang memancarkan sensualitas banyak beredar. Awas banyak generasi muda yang rusak karenanya. Tidak ada unggah ungguh atau merasa hal yang menjual sensualitas adalah sesuatu yang merugikan dan dapat merusak moral bangsa….

Semakin hari, dan semakin tahun berganti, film yang berbau porno akan tambah gencar. Disadari atau tidak, mungkin ini adalah keinginan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang akan merusak moral generasi muda. Lihatlah beberapa tahun ke depan, bukan hanya orang dewasa aja yang mengumbar nafsu sahwat mereka, tp anak-anak muda (yang notabene masih smp- dibawah umur) akan melakukan hal serupa.

Ini adalah pekerjaan berat bagi pemuka agama. Jangan sampai terlena atau tidak melakukan pembaruan-pembaruan.
Perubahan jaman semakin cepat, ayo berjuang mulai dari sekarang, jangan diam aja. Sudah tidak jamannya cuma diam dan mengaji saja, tp lakukan hal yang terbaik bagi generasi penerus agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan…

Shijiazhuang – Pengadilan China memutuskan hukuman mati terhadap Zhang Yujun, pejabat perusahaan susu China Sanlu yang terbukti membuat dan menjual ‘bubuk protein’ untuk susu yang mengandung melamin.

Seperti dilaporkan AP, Jumat (23/1), Zhang Yujun yang pebisnis sekaligus pejabat Sanlu Group merupakan orang pertama yang dijatuhi hukuman dalam kasus yang telah menewaskan enam balita dan membuat 300 ribu balita di China sakit.

Sementara Sanlu Group yang sebagian sahamnya dimiliki Fonterra Group dari Selandia Baru, telah bangkrut sejak skandal ini terbongkar. Pria lainnya dihukum penjara seumur hidup atas perannya memasukkan bubuk yang mengandung zat berbahaya itu ke dalam susu. Para produsen itu berusaha mencurangi kandungan gizi dan nutrisi.

Sebab kandungan melamin yang tinggi nitrogen serupa dengan kandungan nutrisi dan gizi yang harus dipenuhi pada setiap produk susu.

Zhang telah membuat dan menjual lebih dari 600 ton produk susu dengan bubuk berbahaya itu antara Oktober 2007 hingga Agustus 2008. Keuntungan yang ia peroleh dari penjualannya sekitar 6,8 juta yen atau Rp 11,2 triliun.

Selain kematian, pada beberapa kasus anak-anak yang mengonsumsi susu itu menderita batu ginjal dan beberapa komplikasi lainnya.

Sementara mantan Ketua Dewan Direksi dan mantan Mantan manajer Sanlu Tian Wenhua, juga disidang dengan tuduhan memproduksi dan menjual barang palsu atau di bawah standar. Wenhua terbebas dari hukuman mati dan hanya diganjar hukuman seumur hidup dan denda 24,5 juta Yuan atau setara dengan Rp 39,6 miliar.

Perdana Menteri Cina Wen Jiabao mengatakan pemerintahnya ikut bertanggungjawab dalam skandal susu terkontaminasi melamin yang menyebabkan ribuan anak sakit.

Dalam wawancara yang jarang dilakukan, kali ini dengan majalah Science, Jiabao mengatakan pemerintahnya merasa “sangat sedih” dengan krisis yang menewaskan empat orang anak ini.

Perdana Menteri mengatakan meski ini merupakan masalah dengan satu perusahaan swasta, pemerintah Cina tidak mengawasi industri susu dengan baik.

Para pemasok susu diduga menambah zat kimia terlarang yang biasa digunakan pada plastik ini untuk mencairkan susu agar kandungan proteinnya tampak lebih tinggi. Sekitar 53.000 anak sakit akibat mengkonsumsi susu tersebut dan sebagian besar adalah anak berusia di bawah 2 tahun.

“Kami merasa sedih dengan insiden susu ini,” ujar Jiabao seperti dikutip majalah yang diterbitkan oleh Asosiasi Science lanjutan Amerika itu. “Meski kami memandang masalah ini dilakukan dan terjadi di satu perusahaan, pemerintah juga ikut bertanggungjawab.”

Media-media melaporkan bahwa pasar produk Cina yang mengandung susu baik di dalam negeri maupun luar negeri turun, dan menyebabkan sejumlah perusahaan penghasil barang mengandung susu di negara itu bangkrut.

Wen Jiabao mengatakan standar yang jelas dan persyaratan uji coba harus diterapkan di setiap tahap pembuatan susu – mulai dari produksi susu murni, pengumpulan, transportasi hingga proses pembuatan susu bubuk.

“Saya sekali menekankan bahwa perilaku mengorbankan nyawa dan kesehatan manusia untuk pertumbuhan ekonomi sesaat tidak bisa diterima. Makanan, semua jenis makanan, harus sesuai dengan standar internasional.

Otoritas di China saat ini sedang memburu hampir 100 ton susu bubuk yang mengandung melamin, yang tersisa dari skandal susu melamin tahun 2008 lalu. Saat itu enam bayi meninggal akibat mengkonsumsi susu bermelamin.

Temuan ini terkuak saat otoritas melakukan pemberantasan produk-produk susu yang seharusnya telah dihancurkan menyusul skandal melamin. Namun ternyata produk susu melamin tersebut bukannya dihancurkan malah dikemas ulang untuk dijual!

Dua produsen susu di wilayah Ningxia utara ditutup pada Sabtu, 6 Februari lalu karena menjual susu bubuk melamin. Kepolisian di Ningxia menemukan bahwa sebuah perusahaan di luar wilayah itu telah memberikan sekitar 170 ton susu bubuk melamin yang tersisa dari skandal 2008 kepada satu dari dua perusahaan yang ditutup itu. Pemberian berton-ton susu beracun itu sebagai pembayaran utang Juli 2009 lalu. Demikian diberitakan China Daily dan dilansir kantor berita AFP, Senin (8/2/2010).

Perusahaan tersebut, perusahaan Ningxia Tiantian Dairy kemudian mengemas ulang hampir semua susu bubuk melamin itu dan menjualnya ke lima pabrik di China utara dan selatan.

Sejauh ini hanya 72 ton susu bubuk melamin tersebut yang telah ditemukan. Otoritas China masih berupaya menemukan sisanya.

Tidak jelas apakah perusahaan susu itu tahu kalau produk tersebut mengandung melamin. “Sebagai perusahaan kecil, perusahaan susu Tiantian tidak memiliki mesin untuk mengetes melamin,” kata Zhao Shunming, Sekjen Asosiasi Industri Produk Susu Ningxia.

“Mesin seperti itu bisa menelan biaya hingga 1 juta yuan. Namun pengemasan ulang produk yang mereka lakukan adalah ilegal,” tandasnya.

Setidaknya enam bayi meninggal dan 300.000 anak lainnya jatuh sakit pada tahun 2008 setelah mengkonsumsi susu bermelamin. Melamin, zat kimia tersebut sengaja ditambahkan untuk memberikan kesan kandungan protein dalam susu tersebut lebih tinggi.

Melamin adalah zat kimia yang berbahaya bagi tubuh. Melamin yang banyak digunakan dalam pembuatan perabot rumah tangga ini tergolong zat kimia karsinogenik (pencetus kanker). Bahayanya sama dengan bahan kimia lain seperti boraks dan formalin.

Kasus susu bermelamin buatan ternyata juga merembet ke beberapa produk yang beredar di indonesia yang berbahan baku susu dari cina tersebut. Tanggal 23 September kemarin BPOM RI secara resmi menarik 28 produk makanan yang beredar di pasaran karena menggunakan bahan baku susu yang mengandung melamin. berikut daftar yang saya dapatkan dari Koran Tempo:

1. Jinwel Yougoo Susu Fermentasi Rasa Jeruk
2. Jinwel Yougoo Aneka Buah
3. Jinwel Yougoo tanpa Rasa
4. Guozhen susu bubuk full cream
5. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Cokelat
6. Meiji Indoeskrim Gold Monas Rasa Vanila
7. Oreo Stick Wafer
8. Oreo Stick Wafer (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)
9. Oreo Cokelat Sandwich Cookies
10. M&M’s Kembang Gula Cokelat Susu
11. M&M’s Cokelat Susu
12. Snicker’s (biskuit-nougat lapis cokelat)
13. Dove Choc Kembang Gula Cokelat
14. Dove Choc
15. Dove Choc (disebut dua kali, karena ukuran berbeda)
16. Natural Choice Yoghurt Flavoured Ice Bar
17. Yili Bean Club Matcha Red Bean Ice Bar
18. Yili Bean Club Red Bean Ice Bar
19. Yili Prestige Chocliz
20. Yili Chestnut Ice Bar
21. Nestle Dairy Farm UHT Pure Milk
22. Yili High Calcium Low Fat Milk Beverage
23. Yili High Calcium Milk Beverage
24. Yili Pure Milk 205 ml
25. Yili Pure Milk 1 L
26. Dutch Lady Strawberry Flavoured Milk
27. White Rabbit Creamy Candy
28. Yili Choice Dairy Frozen Yoghurt Bar (kembang gula)

SUMBER: Pusat Komunikasi Publik Sekkretariay Jenderal Departemen Kesehatan RI

ANALISIS KORELASI

Analisis Korelasi digunakan mempelajari hubungan antara variabel- variabel atau kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengetahui hubungan antar variabel didalam suatu perencanaan diperlukan data masa lampau dan masa sekarang, juga diperlukan data hasil ramalan yang menggambarkan kemampuan dimasa yang akan datang.
Apabila dua varabel X dan Y mempunyai hubungan, maka nilaii variabel X yang sudah diketahui dapat dipergunakan untuk menaksir Y. Variabel Y disebut dengan variabel terikat, sedangkan variabel X disebut variabel bebas.
Hubungan dua variabel ada yang positif dan negatif. Hubungan X dan Y dikatakan positif apabila kenaikan/penurunan X juga diikuti oleh kenaikan/penurunan Y, begitu juga sebaliknya.
Kuat dan tidaknya hubungan X dan Y apabila dinyatakan dalam fungsi linier , diukur dengan suatu nilai myang disebut koefisien korelasi. Nilai ini dapat dinyatakan sebagai berikut :
-1 < r 0,05 maka Ho diterima atau tidak adanya hubungan signifikan antara tingkat prestasi dan jumlah pekerja.
2. Analisis korelasi antara prestasi dan IQ
Angka korelasi sebesar – 0,364 menujukan bahwa hubungan antara prestasi dan IQ sangat lemah dan menujukkan suatu korelasi negatif, artinya bahwa tingginya presatasi seseorang belum tentu disebabkan oleh IQ yang tinggi. Pada kolom Sig. (2-tailed) didapat angka probabilitas sebesar 0,194. Ini berarti bahwa 0,194 > 0,05 sehingga Ho diterima atautidak adanya hubungan yang signifikan antara prestasi dan IQ pekerja.
3. Analisis korelasi antara prestasi dan motivasi
Angka korelasi sebesar 0,206 menunjukkan hubungan yang sangat lemah antara prestasi dan motivasi kerja seseorang.Tanda positif menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi seseorang berarti semakin tinggi pula prestasi orang tersebut. Angka probabilitas sebesar 0,456 > 0,05, berarti Ho diterima. Artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut.
4. Analisis korelasi antara pekerja dan IQ
Angka korelasi sebesar –0,15 menujukkan korelasi negatif yang sangat lemah antara jumlah pekerja dan tingkat IQ seseorang. Dalam hal ini berarti semakin banyak jumlah pekerja tidak diikuti dengan semakin tingginya IQ seseorang. Angka probabilitas sebesar 0,590>0,05. Artinya Ho diterima dengan kata lain bahwa tidak adanya hubungan simifikan antara pekerja dan IQ.
5. Analisis korelasi antara pekerja dan motivasi
Angka korelasi sebesar –0,29 menujukkan korelasi negatif yang sangat lemah antara jumlah pekerja dan tingkat motivasi bekerja seseorang. Angka probabilitas sebesar 0,916>0,05 berarti Ho ditolak, berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel
6. Analisis korelasi antara IQ dan motivasi
Angka korelasi sebesar –0,5 menujukkan korelasi negatif yang cukup kuat antara IQ dan motivasi. Dengan kata lain semakin tinggi IQ seseorang belum tentu orang tersebut memiliki motivasi yang kuat untuk bekerja. Angka probabilitas sebesar 0,08 menujukkan tidak ada hubungan signifikan antara IQ dan motivasi.

Analisis Koefisien korelasi Sperman
Antara analisis perhitungan Sperman dan Kendall menghasilkan angka korelasi yang tidak jauh berbeda serta kepuusan signifikasi yang sama.

Analisis Korelasi Parsial
Variabel kontrol adalah IQ disebut dengan first order partial. Pada zero order patial (merupakan baian pertama output karena belum dilakukan korelasi partial) didapat koefisien korelasi antara prestasi dan motivasi sebesar 0.3283. Derajat kebebasan (df) sebesar 7 .
Setelah variabel IQ sebagai variabel kontrol dikeluarkan diperoleh koefisien korelasi motivasi dan prestasi sebesar 0,034, sedangkan df menjadi 6. Dari fenomena diatas terlihat bahwa dengan adanya variabel kontrol terjadi penurunan sebesar korelasi.

ANALISIS REGRESI

Dalam merumuskan suatu Perencanaan Ruang Wilayah dan Kota, kita selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan yang kompleks. Hal yang demikian terjadi karena produk dari suatu perencanaan selalu ditujukan kepada manusia. Manusia yang menjadi objek sekaligus subjek perencanaan memilki berbagai kepentingan yang beranekaragam yang untuk setiap individu selalu berbeda dan masing-masing ingin untuk mewujudkannya.
Produk perencanaan yang ideal adalah rumusan perencanaan yang seoptimal mungkin berusaha untuk mewadahi keberagaman kebutuhan manusia. Pada batas-batas tertentu, upaya untuk mewadahi kebutuhan suatu pihak akan membentur hak-hak pihak lain yang perlu juga untuk diwadahi. Keterkaitan ini terlihat jelas, misalnya pada rencana alokasi kawasan industri yang mempertimbangkan kemungkinan efek dari kegiatan perindustrian terutama polusi terhadap ruang wilayah sekitarnya. Hal ini perlu menjadi bahan pertimbangan dalam proses perumusan suatu perencanaaan sehingga produk dari perencanaan mampu mengorganisir segala potensi sumber daya manusia dan daya dukung alam dalam upaya mewadahi berbagai kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Dari uraian diatas secara tidak langsung tersirat bahwa pada berbagai fenomena kehidupan terdapat hubungan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Banyaknya jumlah fasilitas pendidikan yang tersedia dapat mempngaruhi tingkat pendidikan penduduk wilayah setempat, merupakan salah satu contoh dari adanya keterkaitan tersebut.
Dalam keperluan perencanaan, analisis mengenai hal-hal seperti diatas dirasa perlu untuk kepentingan penentuan kebijakan dalam pengembangan suatu suatu kawasan. Masih serupa dengan contoh diatas, dalam tulisan ini akan dianalisis lebih lanjut hubungan antara kepadatan penduduk dengan banyaknya fasilitas perekonomian yang tersedia. Seperti diketahui bahwa banyaknya kegiatan ekonomi di suatu daerah dapat menjadi indikator terdapatnya konsentrasi penduduk atau juga sebaliknya perkembangan kepadatan penduduk menunutut adanya perbaikan fasilitas perekonomian baik dalam bentuk kwalitas maupun kwantitasnya. Terdapat atau tidaknya hubungan antara kedua variabel tersebut dapat dianalisis dengan menggunakan metode analisis regresi.
Dengan mengetahui formula hubungan antara kedua variabel tersebut, maka dapat dilakukan suatu ramalan terhadap salah satu variabel dengan menentukan variabel yang lain. Misalnya untuk jumlah fasilitas perekonomian tertentu, berapa jumlah rata-rata penduduk yang dapat terlayani atau sebaliknya untuk jumlah penduduk tertentu membutuhkan berapa banyak fasilitas perekonomian.
Untuk kepentigan Perencanaan Wilayah dan Kota, pengetahuan hubungan keterkaitan ini perlu untuk mengambil langkah antisipasi misalnya, dengan melakukan proyeksi jumlah penduduk dimasa mendatang, dapat diperkirakan jumlah fasilitas perekonomian yang dibutuhkan sehingga dapat diambil kebijakan untuk mengalokasikan ruang berbagai fasilitas perekonomian.

Kajian Teori

Jika kita memiliki data-data yang terdiri dari dua atau lebih variabel, sewajarnya diketahui untuk mempelajari bagaimana caranya variabel-variabel itu berhubungan. Hubungan yang diperoleh umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel-variabel. Studi yang menyangkut masalah ini dikenal dengan Analisis Regresi.
Analisis Regresi dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu Regresi Linier dan Regresi Berganda. Pada penyusunan tugas ini kelompok kami menggunakan acuan Regresi Linier Sederhana sebagai dasar analisis data atas permasalahan yang kami angkat. Analisis regresi sederhana ini sering digunakan dalam menganalisis data-data yang memiliki dua variabel, yang terdiri dari satu variabel bebas atau variabel prediktor dan satu variabel tak bebas atau variabel respon. Penentuan variabel bebas dan tak bebas ini dalam beberapa hal tidak mudah dilaksanakan. Studi yang cermat, diskusi yang seksama, berbagai pertimbangan, kewajaran masalah yang dihadapi dan pengalaman akan membantu memudahkan penentuan. Variabel yang mudah didapat sering digolongkan ke dalam variabel bebas, sedangkan variabel yang terjadi karena variabel bebas itu merupakan variabel tak bebas. Untuk keperluan analisis, variabel bebas akan dinyatakan dengan X1, X2, …, Xk (k>1), sedangkan variabel tak bebas dinyatakan dengan Y.
Pada umumnya, dalam statistika selalu menyimpulkan populasi dengan menggunakan hasil analisis data sampel. Khusus dalam regresi juga menentukan hubungan fungsional yang diharapkan berlaku untuk populasi berdasarkan data sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Hubungan fungsional ini akan dituliskan dalam bentuk persamaan matematika, yang disebut persamaan regresi, yang akan dipengaruhi oleh parameter-parameter. Model atau persamaan regresi secara umum dapat dituliskan dalam bentuk :

µy.x1, x2, …, xk = {(x1, x2,…, xk)1, 2, …, m} …. rumus (1).

Sebuah contoh regresi sederhana untuk populasi dengan sebuah variabel bebas adalah yang dikenal dengan regresi linier sederhana dengan model :
y.x = 1 + 2X ……. rumus (2).

Jika 1 dan 2 ditaksir oleh a dan b maka regresi berdasarkan sampel adalah :

Yˆ = a + bX ………. rumus (3), dengan simbol Yˆ dibaca Y topi.
Regresi dengan X merupakan variabel bebasnya dan Y variabel tak bebasnya, dinamakan regresi Y atas X. Sebaliknya, adalah regresi X atas Y.
Persamaan regresi dapat ditentukan dengan dua cara jika hasil pengamatan sudah didapat, yaitu dengan metode tangan bebas dan metode kuadrat terkecil. Metode tangan bebas menggunakan diagram pencar. Jika titk-titik yang ditentukan oleh absis X dan ordinat Y terletak di sekitar garis lurus, maka disebut regresi linier, dan jika letak titik-titik di sekitar garis lengkung disebut regresi nonlinier. Namun, ada kalanya penetuan regresi dengan cara ini bersifat tidak tunggal, artinya tiap orang akan memberikan perkiraan yang berbeda tergantung pada pertimbangan pribadi masing-masing. Hanya mereka yang betul-betul ahli mungkin dapat menentukan regresi yang baik dengan cara ini. Yang berikutnya adalah metode kuadrat terkecil untuk regresi linier. Jika tidak betul-betul yakin dengan penentuan dugaan bentuk regresi linier atau tidak dengan metode tangan bebas, lebih baik ditentukan dengan cara lain yaitu cara kuadrat terkecil. Cara ini berpangkal pada kenyataan bahwa jumlah kuadrat dari jarak antara titik-titik dengan garis regresi yang sedang dicari harus sekecil mungkin.
Untuk gambaran umum yang terdiri dari sebuah variabel bebas X dan sebuah variabel tak bebas Y dimana model regresi linier untuk populasi sudah dapat diduga, maka kita perlu menaksir parameter-parameter regresi sehingga didapat persamaan seperti dalam rumus (3). Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier dapat dihitung dengan rumus :
a =
Rumus (4)
b =

Jika terlebih dulu dihitung koefisien b, maka koefisien a dapat pula ditentukan dengan rumus :

A = Y¯ – bX¯ …. .. ….rumus (5), dengan X¯ dan Y¯ masing-masing
adalah untuk variabel-variabel X dan Y.
Rumus-rumus di atas dipakai untuk menentukan koefisien-koefisien regresi Y atas X. Untuk koefisien-koefisien regresi X atas Y rumus yang sama digunakan tetapi harus dipertukarkan tempat untuk simbol-simbol X dan Y.
Variabel tak bebas Y dalam regresi telah dinyatakan oleh simbol Yˆ (baca: ye topi) untuk menyatakan bahwa kita berhadapan dengan Y yang didapat dari regresi dan untuk membedakannya dengan Y dari hasil pengamatan. Koefisien b dinamakan koefisien arah regresi linier dan menyatakan perubahan rata-rata variabel Y utnuk setiap perubahan variabel X sebesar satu unit. Perubahan ini merupakan pertambahan apabila b bertanda positif dan penurunan atau pengurangan apabila bertanda negatif. Regresi yang didapat, selanjutnya digunakan untuk keperluan prediksi atau anlisis apabila harga variabel bebas diketahui. Jika harga X yang dimasukkan dalam persamaan regresi terletak di dalam daerah ruang gerak X hasil pengamatan, proses itu dinamakan interpolasi. Memasukkan harga X di luar batas daerah ruang gerak pengamatan merupakan ekstrapolasi.
Persoalan lain yang terjadi setelah mengetahui persamaan regresi-regresi linier dan pengujian terhadap parameter-parameternya adalah seberapa kuat hubungan antara variabel-variabel itu terjadi. Hal ini dibahas dalam analisis korelasi. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan, terutama untuk data kuantitatif dinamakan koefisien korelasi.
Secara umum, untuk pengamatan yang terdiri atas dua variabel X dan Y, misalnya dalam persamaan Y atas X yang berbentuk Yˆ = f(X). Jika regresinya linier, jelas
f(X) = a + bX. Apabila Y¯ menyatakan rata-rata untuk data variabel Y, maka kita dapat membentuk jumlah kuadrat total, JKtot = (Yi – Y¯)2 dan jumlah kuadrat residu, JKres = (Yi – Yˆ)2 dengan menggunakan harga-harga YˆI yang didapat dari regresi Yˆ = f(X). Besaran secara umum ditentukan oleh rumus (6) :
I =
atau,
I =
Ini dinamakan Indeks Determinan yang mengukur derajat hubungan antara variabel Xdan Y, apabila antara X dan Y terdapat hubungan regresi berbentuk Yˆ = f(X). Indeks determinansi ini bersifat bahwa jika titik-titik diagram pencar letaknya makin dekat pada garis regresi, maka harga I makin dekat = 1. Sebaliknya jika titik-titik itu makin jauh dari garis regresi atau tepatnya terdapat garis regresi yang tuna cocok, maka harga I makin dekat = 0. Secara umum berlaku 0  I  1.
Pada analisis regresi linier, derajat hubungannya akan dinyatakan dengan r dan dinamakan koefisien korelasi. Karena rumus di atas bersifat umum, maka itupun berlaku apabila pola hubungan antara Y dan X berbentuk regresi linier. Dalam hal ini, I akan diganti oleh r2 dan diperoleh :…………rumus (7):

r2 =
r2 dinamakan koefisien determinansi atau koefisien penentu. Disebut demikian karena 100 r2% dari variasi yang terjadi dalam variabel tak bebas Y dapat dijelaskan oleh varibel bebas X dengan adanya regresi linier Y atas X. Harga dinamakan koefisien alienasi atau koef. perenggangan. Harga 1 – r2 sendiri dapat dinamakan koef. nondeterminasi. Dari rumus (7) akan berlaku 0  r2  1 sehingga untuk koef. korelasi didapat hubungan –1  r  1. Harga r = -1 menyatakan adanya hubungan linier sempurna tak langsung antara X dan Y. Ini berarti bahwa titik-titik yang ditentukan oleh (Xi,Yi) seluruhnya terletak pada garis linier dan harga X yang besar menyebabkan atau berpasangan dengan Y yang kecil. Sedangkan harga X yang kecil berpasangan dengan Y yang besar. Harga r = 1 menyatakan adanya hubungan linier sempurna langsung antara X dan Y. Letak titik-titik ada pada garis linier dengan sifat bahwa harga X yang besar berpasangan dengan harga Y yang besar, sedangkan harga X yang kecil berpasangan dengan Y yang kecil pula.
Harga-harga r lainnya bergerak antara –1 dan 1 dengan tanda negatif menyatakan adanya korelasi tak langsung atau korelasi negatif dan tanda positif menyatakan korelasi langsung atau korelasi positif. Khusus untuk r = 0, maka hendaknya ini dianggap tidak ada hubungan linier antara variabel-variabel X dan Y. Untuk keperluan perhitungan koef, korelasi r berdasarkan sekumpulan data (Xi,Yi) berukuran n dapat digunakan rumus

r = ……………rumus (8)
Jika persamaan regresi linier Y atas X telah ditentukan dan sudah diperoleh koef. arah b, maka koef. determinasi r2 dapat ditentukan oleh rumus :

r2 = …………..rumus (9)

TOPIK PERMASALAHAN / KASUS

Yang menjadi topik permasalahan adalah bagaimana dapat diperoleh gambaran mengenai Pengalokasian lahan pada perkembangan wilayah studi dalam hal ini adalah Kota Ketapang Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat khususnya untuk pengadaan fasilitas atau prasaran ekonomi yang dapat menjangka atau melayani seluruh penduduk pada kawasan tersebut.
Dalam hal ini sangat penting untuk diketahui dahulu bagaimana hubungan keterkaitan antara besarnya kepadatan penduduk dengan banyaknya fasilitas/prasarana ekonomi yang dibutuhkan. Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa hal ini disebabkan karena semakin besar kepadatan penduduk disuatu daerah, akan semakin banyak fasilitas ekonomi yang dibutuhkan atau sebaliknya banyaknya fasilitas ekonomi dapat menjadi salah satu indikator terhadap seberapa besar terdapat konsntrasi penduduk pada daerah tersebut mengingat semakin banyak penduduk menyebabkan semakin banyak pula kegiatan ekonomi yang berlangsug. Dengan demikian, secara kasar dapat dikatakan bahwa antara kedua variabel diatas terdapat hubungan keterkaitan.

Rumusan Masalah

Yang menjadi masalah berikutnya adalah bagaimana menentukan hubungan antara kedua variabel tersebut. Hubungan keterkaitan antara variabel kepadatan penduduk dengan variabel ketersediaan fasilitas/prasaran ekonomi dapat dinyatakan sebagai hubungan fungsional dalam bentuk persamaan matematik sebagaimana telah diuraikan pada BAB I. Ini artinya dalam melakukan analisis terdapatnya hubungan antara kedua variabel, dapat digunakan metode analisis regresi linier. Dalam melakukan analisis regresi linier, terlebih dahulu harus ditentukan dahulu salah satu variabel sebagai variabel bebas.
Dengan mengetahui hubungan antara keua variabel, maka dapat diketahui pula pengaruh variabel yang satu terhadap variabel lainnya dalam hal ini pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas.

Variabel-variabel yang digunakan

Karena menggunakan metode analisis regresi linier sederhana, maka hanya digunakan dua variabel yaitu kepadatan penduduk dan ketersediaan fasilitas/prasarana ekonomi. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebas yang untuk selanjutnya disebut ‘X’ adalah kepadatan penduduk Kota Ketapang Tahun 1994. Sedangkan variabel lainnya sebagai Variabel respon yang untuk selanjutnya disebut ‘Y’ adalah ketersediaan fasilitas/prasarana ekonomi Kota Ketapang Tahun 1994. Dalam hal ini fasilitas/prasarana ekonomi berupa :
 Toko/warung
 Penginapan/losmen
 Rumah makan
 Pasar
 Bank
 Koperasi
 Pelelangan/Pasar Ikan
 Pabrik/Industri
 Bengkel
 Gudang

Untuk keperluan analisis, yang digunakan adalah jumlah dari seluruh fasilitas ekonomi yang ada di tiap-tiap Kelurahan.

KEPADATAN PENDUDUK KOTA KETAPANG TAHUN 1994

No Kelurahan/
Desa Jumlah
Penduduk Luas (ha) Kepadatan (jiwa/ha)
Adm. Terb. Adm Terb.
1 Kantor 6.540 125 67,75 52 97
2 Mulia Baru 5.326 396 94,10 13 57
3 Tengah 6.904 91 78,20 76 88
4 Sampit 4.277 460 120,90 9 35
5 Kalinilam 3.402 1.125 86,20 3 39
6 Sukabangun 5.703 1.112 54,25 5 105
7 Sukaharja 4.943 1.142 157,90 4 31
8 Padang 2.181 478 18,45 5 118
9 Tuan – Tuan 4.871 789 48,60 6 100
10 Sungai Kinjil 4.057 385 29,40 11 138
11 Sukabaru 1.454 581 8,75 3 166
12 Baru 1.810 119 11,75 15 154
13 Kauman 3.805 130 52,30 29 73
14 Mulia Kerta 5.907 1.148 63,00 5 94
15 Negeri Baru 1.996 269 8,00 7 250
KOTA KETAPANG 63.176 8.350 899,55 8 70

Sumber: Hasil perhitungan

Jumlah Fasilitas/prasarana Ekonomi Kota Ketapang per Kelurahan

No Kelurahan/
Desa Jumlah
1 Kantor 365
2 Mulia Baru 63
3 Tengah 97
4 Sampit 20
5 Kalinilam 32
6 Sukabangun 80
7 Sukaharja 19
8 Padang 27
9 Tuan – Tuan 54
10 Sungai Kinjil 41
11 Sukabaru 2
12 Baru 13
13 Kauman 24
14 Mulia Kerta 11
15 Negeri Baru 12

Hasil Pengolahan Data

Regression

Analisis Kasus

Analisis Korelasi Kepadatan Penduduk Dan Fasilitas ekonomi

Pengaruh kepadatan penduduk terhadap fasilitas ekonomi dihitung dengan metode regresi linier sederhana. Dalam hal ini dependent variabelnya adalah kepadatan penduduk, sedangkan variable X adalah fasilitas ekonomi.
Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kepadatan penduduk dan fasilitas ekonomi. Nilai koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut adalah 0,607. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,368. Ini menunjukkan hanya 36,8% kepadatan penduduk dipengaruhi oleh fasilitas ekonomi. Sedangkan 63,2% disebabkan oleh faktor-faktor lain. Nilai korelasi menunjukkan bahwa kepadatan penduduk tidak begitu dipengaruhi oleh kelengkapan fasilitas ekonomi di kota Ketapang.
Hasil tersebut secara signifikan dapat dilihat dalam persamaan regresi :
Y’= 8,029+ 0,143 fasilitas ekonomi

Jadi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa bertambahnya/berkurangnya kepadatan penduduk di Kota Ketapang tidak begitu berpengaruh dengan bertambah/berkurangnya fasilitas ekonomi didaerah tersebut, tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti fasilitas transportasi yang memadai, fasilitas pendidikan, fasilitas telekomunikasi, dan fasilitas-fasilitas lainnya.
Berdasarkan dari gambar normal probality plot dapat diamati bahwa sebaran pada chart terpencar jauh dari garis lurus. Maka dapat diatakan bahwa persyaratan normalitas tidak terpenuhi.

CROSSTAB

Crosstab digunakan untuk menyajikan deskripsi data dalam bentuk tabel silang ( crosstab ), yang terdiri atas baris dan kolom. Selain itu, menu ini juga dilengkapi dengan analisis hubungan di antara baris dan kolom. Crosstab juga dilengkapi dengan perhitungan chi – square untuk uji independensi dan berbagai alat korelasi dua vareibel dalam baris dan kolom. Dengan demikian ciri crosstab adalah adanya 2 variabel atau lebih yang mempunyai hubungan secara deskkriptif.
Data untuk penyajian crosstab pada umumnya adalah data kualitatif, khususnya yang berskala nominal seperti hubungan antara gender dengan usia, berupa komposisi laki – laki untuk setiap rank usia dan lainnya.

Contoh Kasus
Untuk mengetahui hubungan antara tingkat konsumtif seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuh, tingkat pendapatan perbualan, jumlah penduduk usia melahirkan, jenis matapencaharian, dan tingkat sosial penduduk kota.
Setelah memasukkan input suatu data sejumlah 120 ke dalam software, dalam kasus ini kami gunakan software SPSS, dihasilkan keluaran sebagai berikut :

Crosstabs

Crosstabs

Crosstabs

Crosstabs

Crosstabs

ANALISIS

Analisis Keterkaitan antara ‘Tingkat Pendidikan Yang Telah Ditempuh’ dengan ‘Tingkat Konsumtif’
• Nilai Pearson Chi-Square adalah 21,819 sedangkan nilai Chi-Square tabel dengan df = 2 dan  =0,05 adalah 5,99. Nilai Chi-Square hitung > nilai Chi-Square tabel, maka Ho di tolak artinya terdapat hubungan antara Tingkat Pendidikan Yang Telah Ditempuh’ dengan ‘Tingkat Konsumtif’.
• Harga Koefisien Kontingensi adalah 0,392 artinya hubungan antara kedua variabel tidak terlalu erat.
• Harga lambda dengan variabel ‘Tingkat Pendidikan Yang Telah Ditempuh’‘ sebagai variabel bebas adalah 0,182 artinya variabel bebas tersebut tidak terlalu mampu mendiskripsikan besarnya tingkat konsumtif yang berarti pula masih ada variabel lain yang lebih mempengaruhi besarnya tingkat konsumtif.

Analisis Keterkaitan antara ‘Tingkat Pendapatan Penduduk Tiap Bulan’ dengan ‘Tingkat Konsumtif’.
• Nilai Pearson Chi-Square adalah 25,635 sedangkan nilai Chi-Square tabel dengan df = 2 dan  =0,05 adalah 5,99. Nilai Chi-Square hitung > nilai Chi-Square tabel, maka Ho di tolak artinya terdapat hubungan antara kedua variabel.
• Harga Koefisien Kontingensi adalah 0,420 artinya hubungan antara kedua variabel cukup erat.
• Harga lambda dengan variabel ‘Tingkat Pendapatan Penduduk Tiap Bulan’ sebagai variabel bebas adalah 0,265 artinya variabel bebas tersebut lebih mampu mendiskripsikan besarnya ‘Tingkat Konsumtif’ dibanding ‘Tingkat Pendapatan Penduduk Tiap Bulan’. Namun angka ini masih menunjukkan adanya variabel lain yang lebih mempengaruhi besarnya ‘Tingkat Konsumtif’

Analisa Keterkaitan antara ‘Usia Penduduk Yang Melahirkan’’ dengan ‘Tingkat Konsumtif’
• Nilai Pearson Chi-Square adalah 13,247 sedangkan nilai Chi-Square tabel dengan df = 8 dan  =0,05 adalah 15,5. Nilai Chi-Square hitung < nilai Chi-Square tabel, maka Ho di terima artinya tida terdapat hubungan antara kedua variabel.
• Harga Koefisien Kontingensi adalah 0,315.
• Harga lambda dengan variabel ‘Usia Penduduk Yang Melahirkan’ sebagai variabel bebas adalah 0,015 artinya variabel bebas tersebut nyaris sama sekali tidak mampu mendiskripsikan besarnya Tingkat Konsumtif. Jadi besarnya Tingkat Konsumtif hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lain selain variabel bebas tersebut.

Analisa Keterkaitan antara ‘Jenis Matapencaharian Penduduk’ dengan ‘Tingkat Konsumtif’.
• Nilai Pearson Chi-Square adalah 9,033 sedangkan nilai Chi-Square tabel dengan df = 8 dan  =0,05 adalah 15,5. Nilai Chi-Square hitung nilai Chi-Square tabel, maka Ho di tolak artinya terdapat hubungan antara kedua variabel.
• Harga Koefisien Kontingensi adalah 0,432 artinya antara ‘Tingkat Sosial Penduduk Kota’ dengan besarnya “Tingkat Konsumtif’cukup erat hubungannya.
• Harga lambda dengan variabel ‘Tingkat Konsumtif’ sebagai variabel bebas adalah 0,052 yang apabila dibandingkan dengan kebalikannya sebagai variabel tak bebas, maka ‘Tingkat Konsumtif’ lebih condong mempengaruhi daripada di pengaruhi oleh ‘Tingkat Sosial Penduduk Kota’

DISKRIMINAN ANALISIS

Diskriminan analysis adalah teknik statistik untuk menggolongkan populasi atau individu atau objek menjadi kelompok – kelompok sendiri dalam sekumpulan variabel independent. Pengelompokan ini bersifat mutually exclusive, dalam arti objek A sudah masuk kelompok 1, maka ia tidak mungkin masuk kelompok 2. Ciri analisis ini adalah jenis data dari variabel dependent bertipe nominal ( kategori ), seperti kode 2 dan 1, atau kode 1, 2, dan 3 serta kombinasi lainnya.

Proses diskriminan lebih dari 2 kelompok

Untuk diskriminan untuk 3 kelompok seperti pada kasusu ini, pembagian variabel bebas tidak seperti pada kasus 2 kelompok, yakni ‘ langsung ‘ variabel a ke kelompok 1, variabel b ke kelompok 2 dan seterusnya. Disini seluruh variabel bebas dilakukan proses reduksi variabel terlebih dahulu, yakni menjadi 1 atau beberapa faktor. Setelah itu, setiap kelompok ( sering, jarang, cukup ) akan ditentukan lebih cenderung masuk ke faktor yang mana. Jadi di sini dasar pembagian adalah faktor bukan variabel bebas yang semula.
Gambar :

Kasus

Sebuah Toko ‘ Brahmana ‘ ingin mengetahui faktor apa saja yang mendorong seorang konsumen untuk sering, cukup, atau jarang berbelanja di toko itu. Setelah diadakan kuesioner maka didapatkan sejumlah variabel yang mempengaruhi perilaku beli konsumen, dengan 105 responden, yaitu :
1. Layout, yaitu tata letak barang.
2. lengkap, yaitu kelengkapan barang.
3. Harga, yaitu harga yang murah dan kompetitif.
4. Musik, yaitu fasilitas musik untuk para pengunjung.
5. Ac, yaitu fasilitas pendingin udara untuk para pengunjung.
6. lampu, yaittu fasilitas penerangan untuk pengunjung.
7. Pel_kar, yaitu pelayanan karyawan.
8. Pel_kas, yaitu pelayanan kasir.
9. Promosi, yaitu kegiatan promosi oleh toko.
10. Image, yaitu citra toko di mata para konsumen.
Selain itu, responden juga ditanya apakah :
 Sering membeli ( dengan kriteria pembelian minimal 7 kali sebulan ), dengan kode 0.
 Cukup membeli ( dengan kriteria pembelian 4 sampai 7 kali sebulan ), dengan kode 1.
 Jarang membeli ( dengan kriteria pembelian di bawah 4 kali sebulan ), dengan kode 2.
Sehingga terdapat 2 variabel :
• Sebuah variabel dependent ( tergantung ), yaitu variabel berjenis kategori, dengan kode 0, 1, dan 2.
• sepuluh variabel independent ( bebas ), yaitu variabel layout, lengkap, harha, musik, ac, lampu, pel_kar, pel_kas, promosi, dan image, yang diduga membuat perbedaan perilaku beli konsumen.

Tujuan analisis pada kasus ini

1. Apakah perilaku beli konsumen benar – benar berbeda, dalam arti mereka yang sering membeli perilakunya benar – benar berbeda dengan yang cukup dan jarang membeli ?
2. Jika berbeda, variabel bebas mana saja yang membedakan perilaku beli konsumen ? semua variabel bebas, atau hanya sebagian variabel ? jika ada sejumlah variabel yang membedakan ( diskriminan ) perilaku, maka ada sebuah model diskriminan.
3. Jika ada sejumlah variabel bebas yang membedakan perilaku, variabel mana yang paling penting dan mana yang selanjutnya yang penting ?
4. Dilakukan pengujian, apakah model diskriminan tersebut mampu melakukan klasifikasi responden dengan tepat ?

Langkah – langkah analisis

• Buka software SPSS versi 10. Isikan data.
• Pilih menu Analyze, lalu submenu Classify, kemudian pilih Discriminant…
• Tampak kotak dialog Discriminant. Masukkan varibel beli ke bagian GROUPING VARIABEL. Kemudian buka icon DEFINE RANGE…..
• Tampak kotak dialog DEFINE RANGE. Isikan angka 0 pada manimum, angka 2 pada maximum.
• Tekan continue untuk kembali ke kotak dialog utama.
• Masukkan variabel layout, lengkap, harga, musik, ac, lampu, pel_kar, pel_kas, promosi, dan image ke dalam kotak INDEPENDENT.
• Klik icon STATISTIC. Tampak kotak dialog STATISTIC. Pada bagian DESCRIPTIVES, aktifkan pilihan Means dan Unvariate ANOVAs. Pada bagian FUNCTION COEFFICIENT, aktifkan pilihan Unstandardized. Abaikan bagian lain dan klik continue.
• Klik pilihan Use stepwise method, maka icon METHOD akan terbuka. Pilih Mahalanobis distance pada bagian METHOD, dan pada CRITERIA pilih Use probability of F. Abaikan bagian yang lain, kemudian klik continue.
• Klik icon CLASSIFY. Pada bagian DISPLAY, aktifkan Casewise results, dan Leave-one-out-classification. Abaikan bagian lain, kemudian klik continue untuk kembali ke kotak dialog utama.
• Abaikan icon yang lain dan klil OK untuk proses data

OUTPUT DATA

Discriminant

Analisis

 Tabel ANALYSIS CASE PROCESSING SUMMARY.
Tabel ini menyatakan bahwa responden ( jumlah kasus atau baris SPSS ) semuanya valid ( sah ) untuk diproses. Dengan demikian tidak ditemukan data yang hilang ( missing ).

 Tabel GROUP STATISTIC.
Dari tabel tersebut terlihat ada 44 respponden yang mempunyai perilaku beli ‘ sering ‘, 23 responden dengan perilaku beli ‘ cukup ‘, dan 38 responden dengan perilaku beli ‘ jarang ‘.
Sedangkan total adalah jumlah keseluruhan responden ( 44 + 38 + 23 = 105 orang ). Dari kolom Means, untuk variabel layout, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,6182; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,3957; dan grup ‘ jarang adalah 3,6737. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ jarang ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap layout took, dibandingkan responden yang sering atau cukup berbelanja di toko itu.
Untuk variabel lengkap, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,4864; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,5000; dan grup ‘ jarang adalah 3,4816. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ cukup ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap lengkap toko, dibandingkan responden yang sering atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel harga, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 2,8477; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,2478; dan grup ‘ jarang adalah 2,8737. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ cukup ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap harga toko, dibandingkan responden yang sering atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel musik, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,5705; grup ‘ cukup ‘ adalah 2,8739; dan grup ‘ jarang adalah 3,3132. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ sering ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap musik toko, dibandingkan responden yang cukup atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel Ac, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,1705; grup ‘ cukup ‘ adalah 2,4826; dan grup ‘ jarang adalah 3,0316. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ sering ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap harga toko, dibandingkan responden yang cukup atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel lampu, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 2,8636; grup ‘ cukup ‘ adalah 2,4609; dan grup ‘ jarang adalah 2,3711. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ sering ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap lampu toko, dibandingkan responden yang cukup atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel pel_kar, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,5045; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,6565; dan grup ‘ jarang adalah 3,4579. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ cukup ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap pel_kar toko, dibandingkan responden yang sering atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel pel_kas, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,3705; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,2652; dan grup ‘ jarang adalah 3,2632. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ sering ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap pel_kas toko, dibandingkan responden yang cukup atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel promosi, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 2,7795; grup ‘ cukup ‘ adalah 3,2522; dan grup ‘ jarang adalah 3,0316. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ cukup ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap promosi toko, dibandingkan responden yang sering atau jarang berbelanja di toko itu.
Untuk variabel image, rata – rata skor untuk group ‘ sering ‘ adalah 3,4932; grup ‘ cukup ‘ adalah 2,9435; dan grup ‘ jarang adalah 2,6053. Hal ini berarti skor paling tinggi adalah group ‘ sering ‘ berbelanja di Brahmana mempunyai sikap yang lebih positif / baik terhadap image toko, dibandingkan responden yang cukup atau jarang berbelanja di toko itu.

 Tabel TEST OF EQUALITY OF GROUP MEANS.
Pedoman dengan F test :
Jika sig > 0,05; berarti tidak ada perbedaan antara 3 group.
Jika sig < 0,05; berarti ada perbedaan antara 3 group.
Variabel layout, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,412 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap tata letak barang di toko.
Variabel musik, angka sig adalah di bawah 0,05 ( 0,022 ). Hal ini berarti ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli dipengaruhi dengan sikap mereka terhadap alunan musik toko.
Variabel ac, angka sig adalah di bawah 0,05 ( 0,032 ). Hal ini berarti ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli dipengaruhi dengan sikap mereka terhadap ac toko.
Variabel image, angka sig adalah di bawah 0,05 ( 0,001 ). Hal ini berarti ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli dipengaruhi dengan sikap mereka terhadap image toko.
Variabel lengkap, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,994 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap kelengkapan toko.
Variabel harga, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,358 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap harga di toko.
Variabel lampu, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,059 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap penerangan toko.
Variabel pel_kar, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,671 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap pelayanan karyawan toko.
Variabel pel_kas, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,880 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap pelayanan kasir toko.
Variabel promosi, angka sig adalah di atas 0,05 ( 0,193 ). Hal ini berarti tidak ada perbedaan antar group, atau responden yang sering beli, cukup membeli, atau jarang membeli tidak berhubungan dengan sikap mereka terhadap promosi toko.

 Tabel VARIABELS ENTERED / REMOVED.
Tabel ini menyajikan dari 10 variabel yang dianalisis, variabel mana yang dapat dimasukkan ( entered ) dalam persamaan diskriminan.
Terlihat ada 3 variabel pada step 1 sampai, yaitu image, ac, dan musik. Namun demikian, pada step 4, variabel ac akhirnya dikeluarkan. Dengan demikian berarti perilaku sering, cukup, atau jarang beli dipengaruhi sikap responden terhadap image dan musik took.

 Tabel VARIABEL IN ANALYSIS.
Tabel ini berisi rangkaian proses tahap 1 sampai 4, pemilihan varibel satu per satu yang dimaksudkan dalam model.

 Tabel VARIABEL NOT IN ANALYSIS.
Tabel ini berisi kebalikan dari tabel sebelumnya, yang justru memuat variabel yang akan dikeluarkan satu per satu dari model.

 Tabel EIGENVALUES.
Pada tabel ini, pada keterangan di bawah, yaitu pada kasus ini digunakan 2 faktor. Jika 1 faktor yang digunakan, maka 88,1 % varians dari variabel beli dapat dijelaskan oleh model diskriminan yang terbentuk. Sedang jika 2 faktor semua variabel beli ( 88,1 % + 11,9 % = 100 % ) dapat dijelaskan oleh model diskriminan. Dengan demikian digunakan 2 faktor untuk analisis selanjutnya.

 Tabel WILK’S LAMBDA.
Pada baris pertama, jika faktor yang dipakai adalah 1 sampai 2, atau kedua faktor yang ada, terlihat angka Chi – Square adalah 26,537 dengan angka sig 0,00, hal ini mengindikasikan perbedaan yang signifikan antara ketiga group pada model diskriminan.
Pada baris kedua, jika faktor yang dipakai adalah 2 saja, terlihat angka Chi – Square adalah 3,340 dengan angka sig 0,064 ( di atas 0,05 ), hal ini mengindikasikan perbedaan yang tidak signifikan antara ketiga group pada model diskriminan.
Dengan demikian karena yang dikehendaki adalah model yang dapat membedakan perilaku di antara ketiga kelompok, maka digunakan 2 faktor.

 Tabel STANDARDIZED CANONICAL DICCRIMINANT FUNTION COEFFICIENT.
Dari analisis sebelumnya, didapat bahwa hanya 2 variabel yang membedakan perilaku, yaitu atribut image dan musik. Sedangkan dari analisis Wilks Lambda, didapat perlunya 2 faktor untuk meringkas kesepuluh variabel. Dari kedua hal di atas, analisis selanjutnya akan menentukan variabel mana akan masuk ke variabel mana. Dasar pemasukan variabel dilihat pada besar korelasi kanonikal, dengan korelasi terbesar masuk ke faktor bersangkutan.
Untuk variabel Musik, angka korelasi terbesar ada di faktor 2 ( 0,752 ), maka variabel musik dimasukkan ke faktor 2. Angka 0,752 berarti ada hubungan yang erat ( angka korelasi di atas 0,5 ) antara variabel musik dengan faktor 2.
Untuk variabel Image, angka korelasi terbesar ada di faktor 1 ( 0,943 ), maka variabel image dimasukkan ke variabel 1. Angka 0,943 berarti ada hubungan yang erat ( angka korelasi di atas 0,5 ) antara variabel image dengan faktor 1.
Dengan demikian, faktor 1 berisi variabel image, sedangkan faktor 2 berisi variabel musik.

 Tabel STRUCTURE MATRIX.
Terlihat pada tabel, sepuluh variabel mula – mula, dengan koefisien masing – masing. Perhatikan variabel dengan tanda “ a “ di kanan atasnya, yang menunjukkan variabel tersebut tidak dipakai / tidak memenuhi syarat masuk model diskriminan. Sedangkan tanda “ * “ di kanan atas angka, menunjukkan ada. Seperti variabel image akan masuk ke faktor 1, variabel lampu masuk ke faktor 1, dan seterusnya. Namun sekali lagi, di sini variabel yang valid tetap 2 variabel seperti pembahasan sebelumnya.
Berikut urutan besar koefisien variabel yang terpilih tanpa memperhatikan tanda + atau -.

Variabel Besar
Musik 0,897
Image 0,715

Dari tabel di atas, variabel musik adalah variabel paling membedakan ( discriminates the most ), dalam arti musik di took Brahmana adalah faktor yang paling membedakan perilaku sering membeli, cukup, atau jarang membeli. Variabel berikut yang membedakan adalah variabel image toko.

 Tabel STANDARDIZED CANONICAL DICCRIMINANT FUNTION COEFFICIENT.
Tabel ini menghasilkan kesimpulan yang sama dengan analisis STANDARDIZED CANONICAL DISCRIMINANT FUNCTION COEFFICIENT, hanya 2 variabel yang membedakan perilaku, yaitu atribut Image dan Musik, dengan variabel musik dimasukkan ke faktor 2 dan variabel image di masukkan ke faktor 1.

 Tabel FUNCTION AT GROUP CENTROID.
Tabel ini akan mengelompokkan ke 3 group dalam function 1 atau function 2.
Dasar pengelompokkan sama, yaitu berdasarkan besar angka di tabel ‘
 Untuk kelompok beli SERING, angka terbesar ada di faktor 1 ( 0,587 ), maka kelompok SERING dimasukkan ke faktor 1.
 Untuk kelompok beli CUKUP, angka terbesar ada di faktor 1 ( 0,442, dengan tanda – atau + diabaikan saja ), maka kelompok CUKUP dimasukkan ke faktor 1.
 Untuk kelompok beli JARANG, angka terbesar ada di faktor 1 ( 0,412 dengan tanda – atau + diabaikan saja ), maka kelompok JARANG dimasukkan ke faktor 1.
Dengan demikian, semua kelompok beli ada di faktor 1 dan tidak ada yang dapat dikategorikan pada function 2. Hal ini berarti baik perilaku beli sering, jarang, atau cukup berbelanja, ditentukan oleh variabel yang ada pada function 1, yang hanya berisi variabel iamge. Jadi, dapat dikatakan, perilaku beli hanya dibedakan oleh image responden terhadap toko.
Kelompok SERING mempunyai tanda + pada function 1. hal ini berarti responden sering membeli di toko itu karena mereka mempunyai image yang positif terhadap toko Brahmana.
Kelompok CUKUP dan JARANG mempunyai tanda – pada function 1. hal ini berarti responden cukup atau jarang membeli di toko itu karena mereka mempunyai image yang negatif terhadap toko Brahmana.

 Tabel CASEWISE STATISTICS.
Tabel ini berisi rincian tiap kasus, penempatannya dalam model diskriminan, serta perbandingan apakah penempatan ( predict ) telah sesuai dengan kenyataan.
Contoh ( lihat juga output SPSS editor / viewer ) :
 Kasus 1 ( atau baris 1 pada DATA EDITOR ), dengan nama TIO, termasuk pada group responden SERING ( kode 0 ). Hal ini ditampakkan pada bagian ACTUAL GROUP di tabel CASE WISE STASTICS. Pada bagian PREDICT GROUP, terlihat angka 0 juga. Berarti prediksi TIO dengan model diskriminan telah tepat, yaitu sesuai kenyataan ( actual ).
Keserasian juga terjadi :
Pada ACTUAL GROUP kode 0 dan PREDICT GROUP angka 0 juga, terlihat pada kasus ke 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 48, 49, 51, 60, 61, 62, 63, 66, 80, 81, 86, 87, 89, 91, dan 92.
Pada ACTUAL GROUP kode 1 dan PREDICT GROUP angka 1 juga, terlihat pada kasus ke 21, 22, 23, 25, 81, 82, 83, 84, 85, 93, 94, 95, 103, dan 104.
Pada ACTUAL GROUP kode 2 dan PREDICT GROUP angka 2 juga, terlihat pada kasus ke 26, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 40, 42, 43, 54, 56, 57, 58, 69, dan 71.
 Kasus 9 ( atau baris 9 pada DATA EDITOR ), dengan nama LIA, termasuk pada group responden SERING ( kode 0 ). Pada bagian PREDICT GROUP, ternyata angka adalah 2. Berarti prediksi posisi LIA dengan model diskriminan tiadk tepat, yaitu sesuai kenyataan ( actual ). Ketidakserasian ( misclassified ) antara actual dan predict group ditunjukkan dengan tanda ** pada kasus yang bersangkutan.
Ketidakserasian juga terjadi :
Pada ACTUAL GROUP kode 0 dan PREDICT GROUP angka 2, terlihat pada kasus ke 18, 39, 47, 50, dan 59.
Pada ACTUAL GROUP kode 0 dan PREDICT GROUP angka 1, terlihat pada kasus ke 46, 64, 65, 67, 78, 79, 88, dan 90.
Pada ACTUAL GROUP kode 1 dan PREDICT GROUP angka 2, terlihat pada kasus ke 19, 44, 45, 53,dan 105.
Pada ACTUAL GROUP kode 1 dan PREDICT GROUP angka 0, terlihat pada kasus ke 20, 24, 52, dan 96.
Pada ACTUAL GROUP kode 2 dan PREDICT GROUP angka 0, terlihat pada kasus ke 41, 68, 70, 77, 97, 100, 101, dan 102.
Pada ACTUAL GROUP kode 2 dan PREDICT GROUP angka 1, terlihat pada kasus ke 27, 36, 55, 72, 73, 74, 75, 76, 98, dan 99.
Demikian seterusnya untuk data yang lain, dengan memperhatikan tanda ** untuk mengetahui terjadinya misclassified dari model dalam memprediksi pengelompokkan data.
Dari hasil di atas, perlu diketahui, seberapa besar ketepatan model diskriminan dalam mengelompokkan kasus pada klsification result berikut ini.

 Tabel CLASSIFICATION RESULT.
Dari tabel, ketepatan pridiksi dari model adalah :
( 30 + 14 + 20 ) / 105 = 0,610 atau 61 %
Oleh karena ngka ketepatan tinggi ( 61 % ), maka model diskriminan di atas sebenarnya dapat digunakan untuk analisis diskriminan. Atau penafsiran tentang berbagai tabel yang ada ( lihat seluruh pembahasan di atas ) valid untuk digunakan. Penggunaan Leave-one-out cross validation, didapat hasil 59 %, yang masih dapat dikategorikan ketepatan klsifikasi cukup tinggi. Pada umumnya ketepatan di atas 50 % dianggap memadai atau valid.

KESIMPULAN ANALISIS DISKRIMINAN DARI KASUS TOKO BRAHMANA

1. Ada perbedaan perilaku yang nyata antara mereka yang SERING berbelanja dengan mereka yang CUKUP atau JARANG berbelanja di toko Brahmana.
2. Dengan analisis faktor, variabel yang ada direduksi menjadi hanya 2 faktor yang relevan untuk membedakan perilaku ketiga kelompok komsumen.
3. Ada 2 atribut ( variabel ) yang paling membedakan perilaku ketiga kelompok pembali tersebut, yaitu atribut Image dan Musik.
4. Faktor 1 berisi variabel IMAGE, sedangkan faktor 2 berisi variabel MUSIK. Analisis lanjutan menunjukkan bahwa ketiga kelompok pembeli ada di Faktor 1.
5. Model diskriminan yang ada ternyata valid dan dapat digunakan, karena tingkat ketepatannya cukup tinggi ( 61 % ) dan mempunyai cross validation yang tinggi pula ( 59 % ).

ANALISIS FAKTOR

Analisis faktor pada prinsipnya digunakan untuk mereduksi data, yaitu proses untuk meringkas sejumlah variabel menjadi lebih sedikit dan menamakannya sebagai faktor. Jadi dapat saja dari 10 atribut yang mempengaruhi sikap konsumen, setelah dilakukan analisis faktor, sebenarnya 10 atribut tersebut dapat diringkas menjadi 3 faktor utama saja. Faktor dapat terbentuk jika terdapat hubungan antara variabel – variabel pengamatan ( faktor dapat terbentuk karena adanya kontribusi / share dalam suatu kelompok variabel pengamatan ). Dalam suatu penelitian sering tidak disadari bahwa suatu variabel sebenarnya saling berhubungan dengan satu atau beberapa variabel lainnya.

TUJUAN

1. Identifikasi faktor yang tidak secara langsung dapat diamati dalam suatu penelitian.
2. Analisis hubungan yang terjadi antar variabel ( korelasi ) pada variabel – variabel asal.

FUNGSI UMUM dan PRINSIP DASAR ANALISIS FAKTOR

1. Reduksi variabel.
2. Pembedaan antara data kualitatif dan kuantitatif.
3. Uji hipotesis terhadap data.

PROSES ANALISIS FAKTOR

Secara garis besar, tahapan pada analisis faktor :
1. Memilih variabel yang layak dimasukkan dalam analisis faktor. Oleh karena analisis faktor berupaya mengelompokkan sejumlah variabel, maka seharusnya ada korelasi yang cukup kuat di antara variabel, sehingga akan terjadi pengelompokkan. Jika sebuah variabel atau lebih berkorelasi lemah dengan variabel lain, maka variabel tersebut akan dikeluarkan dari analisis faktor. Alat seperti MSA atau barlett’s Test dapat digunakan untuk keperluan ini.
2. Setelah sejumlah variabel terpilih, maka dilakukan ‘ ekstraksi ‘ variabel tersebut hingga menjadi 1 atau beberapa faktor. Beberapa metode pencarian faktor yang popular adalah Principal component dan Maximum Likehood.
3. faktor yang terbentuk pada banyak kasus, kurang menggambarkan perbedaan di antara faktor – faktor yang ada. Apabila faktor 1 dengan faktor 2 ternyata masih mempunyai kesamaan, atau sebenarnya masih sulit dikatakan apakah variabel pada faktor 1 benar – benar layak masuk ke faktor 1, ataukah mungkin dapat masuk ke faktor 2. Hal itu akan mengganggu analisis, karena justru sebuah faktor harus berbeda secara nyata dengan faktor lain. Untuk itu jika isi faktor masih diragukan, dapat dilakukan proses rotasi untuk memperjelas apakah faktor yang terbentuk sudah secara signifikan berbeda dengan faktor lain.
4. Setelah faktor benar – benar terbentuk, maka proses dilanjutkan dengan menamakan faktor yang ada.

KASUS

Sebuah Toko ‘ Brahmana ‘ ingin mengetahui faktor apa saja yang mendorong seorang konsumen untuk sering, cukup, atau jarang berbelanja di toko itu.

LANGKAH 1 MEMILIH VARIABEL

1. Buka software SPSS.
2. Isikan data.
3. Pilih menu Analyze, lalu submenu Data Reduction, kemudian pilih factor. Tampak kotak dialog.
4. Masukkan semua variabel ke kotak VARIABELS di sebelah kanan.
5. Buka icon Descriptives. Pilih KMO ang Barlett’s test of sphericity dan Anti Image pada CORRELATION MATRIX. Pilih INITIAL SOLUTION pada STASTICS. Tekan continue.
6. Tekan OK.

ANALISIS

 Pada tabel pertama, KMO and Barlett’s test, terlihat angka K – M – O Measure of Sampling adequacy ( MSA ) adalah 0,610. Oleh karena angka MSA di atas 0,5 maka kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Kemudian dianalisis tiap variabel untuk mengetahui mana yang dapat diproses lebih lanjut dan mana yang harus dikeluarkan.
 Pada tabel kedua ( Anti Image Matrices ), khususnya pada bagian bawah ( Anti Image Correlation ), terlihat sejumlah angka yang membentuk diagonal, bertanda ‘ a ‘, yang menandakan besaran MSA sebuah variabel.
 Terdapat angka MSA di bawah 0,5. Yaitu pada pel_kar ( 0,486 ). Maka ulang kembali langkah pemilihan variabel, namun sekarang tanpa variabel pel_kar, sehingga variabel sudah berkurang satu.

LANGKAH PENGULANGAN PEMILIHAN VARIABEL

1. Pilih menu Analyze, lalu submenu Data Reduction, kemudian pilih factor. Tampak kotak dialog.
2. Masukkan semua variabel ( tanpa variabel pel_kar ) ke kotak VARIABELS di sebelah kanan.
3. Buka icon Descriptives. Pilih KMO ang Barlett’s test of sphericity dan Anti Image pada CORRELATION MATRIX. Pilih INITIAL SOLUTION pada STASTICS. Tekan continue.
4. Tekan OK.

ANALISIS

 Pada tabel pertama, KMO and Barlett’s test, terlihat angka K – M – O Measure of Sampling adequacy ( MSA ) adalah 0,634. Oleh karena angka MSA di atas 0,5 maka kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Dengan dikeluarkannya pel_kar, terlihat kenaikan angka MSA, dari 0,610 ke 0,634.
 Pada tabel kedua ( Anti Image Matrices ), tidak ada variabel yang di bawah dengan angka MSA 0,5, sehingga 9 variabel lainnya dapat dilakukan analisis faktor.
 Dari 10 variabel yang mula – mula dianalisis, dengan 1 kali pengulangan analisis, terseleksi 9 variabel yang memenuhi syarat untuk analisis fktor, yaitu variabel layout, lengkap, harga, ac, musik, lampu, pel_kas, promosi, dan image.

LANGKAH TERAKHIR : FACTOR ANALYSIS

1. Pilih menu Analyze, lalu submenu Data Reduction, kemudian pilih factor. Tampak kotak dialog.
2. Masukkan semua variabel ke kotak VARIABELS di sebelah kanan. Kesembilan variabel ini akan dilakukan prose faktorisasi.
3. Buka icon EXTRACTION. Pilih Prinsipal Component pada METHOD. Pilih Unrotated Factor Solution dan Scree Plot pada DISSPLAY. Tekan continue.
4. Buka icon ROTATION. Pilih Varimax pada METHOD. Pilih Rotated SolutionN dan Loadings Plot pada DISSPLAY. Tekan continue.
5. Tekan OK.

ANALISIS

1. COMMUNALITIES
Untuk variabel ac, angka adalah 0,631. Hal ini berarti sekitar 63,1 % varians dari variabel ac dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel harga, angka adalah 0,640. Hal ini berarti sekitar 64 % varians dari variabel harga dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel image, angka adalah 0,574. Hal ini berarti sekitar 57,4 % varians dari variabel image dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel lampu, angka adalah 0,661. Hal ini berarti sekitar 66,1 % varians dari variabel lampu dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel layout, angka adalah 0,639. Hal ini berarti sekitar 63,9 % varians dari variabel layout dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel musik, angka adalah 0,640. Hal ini berarti sekitar 64 % varians dari variabel musik dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel pel_kas, angka adalah 0,302. Hal ini berarti sekitar 30,2 % varians dari variabel pel_kas dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel promosi, angka adalah 0,480. Hal ini berarti sekitar 48 % varians dari variabel promosi dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ).
Untuk variabel lengkap, angka adalah 0,287. Hal ini berarti sekitar 28,7 % varians dari variabel lengkap dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk ( jika dilihat pada tabel terakhir, yaitu Component Matrix, ada 3 Component, yang berarti ada 3 faktor terbentuk ). Namun, variabel lengkap mempunyai angka communalities yang paling lemah, yang berarti variabel tersebut sebenarnya tidak kuat hubungannya dengan tiga faktor yang terbentuk.

2. TOTAL VARIANCE EXPLAINED
Ada 9 variabel yang dimasukkan dalam analisis faktor. Dengan masing – masing variabel mempunyai varians 1, maka total varians adalah 9 x 1 = 9. Jika 9 variabel tersebut diringkas menjadi 1 faktor, maka varians yang dapat dijelaskan oleh 1 faktor tersebut adalah ( lihat component = 1 ) :
2,261 / 6 x 100 % = 25,12 %
Jika 9 variabel diekstrak menjadi 3 faktor, maka :
 Varians faktor pertama adalah 25,12 %.
 Varians faktor kedua adalah 1,491 / 9 x 100 % = 16,56 %.
 Varians faktor ketiga adalah 1,102 / 9 x 100 % = 12,24 %.
Total ketiga faktor akan dapat dijelaskan 25,12 % + 16,56 % + 12,24 % atau 53,93 % dari variabilitas kesembilan variabel asli tersebut.
Perhatikan juga ketiga faktor tersebut, semua angka eigenvalues di atas 1. Sedangkan jika sebuah faktor ditambah, atau menjadi empat faktor, eignenvalues menjadi di bawah 1 sehingga proses penambahan faktor dihentikan.
Dengan demikian, baik tanpa rotasi ataupun dengan rotasi ( lihat kedua kolom paling kanan ), didapat tiga faktor sebagai hasil reduksi kesembilan variabel sebagai hasil yang optimal.

3. SCREE PLOT
Jika tabel kedua menjelaskan dasar jumlah faktor yang didapat dengan perhitungan angka, maka scaree Plot menampakkan dengan grafik. Terlihat bahwa dari satu kedua faktor ( garis dari sumbu Component Number = 1 ke 2 ), arah garis menurun dengan cukup tajam. Kemudian dari angka 2 ke 3, garis masih menurun, dengan angka ‘ batas ‘ eigenvalues pasa simbu Y masih tidak terlewati. Namun saat perpindahan dari angka 3 ke 4, faktor 4 sudah di bawah angka 1 dari sumbu Y ( Eigenvalues ). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga faktor adalah paling bagus untuk ‘ meringkas ‘ kesembilan variabel tersebut.

4. ROTATED COMPONENT MATRIX
Ada tiga component matrix, sesuai dengan jumlah faktor yang didapat, yaitu distribusi variabel ke dalam faktor dengan adanya proses rotasi.
Component matrix hasil dari proses rotasi ( Rotated Component Matrix ) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata dibandingkan dengan jika tidak dilakukan rotasi.
 Variabel ac : korelasi antar variabel ac dengan faktor 2 adalah yang paling besar ( 0,723 ) jika dibandingkan dengan korelasi dengan faktor 1 ( – 0,0259 ) dan faktor 3 ( – 0,329 ). Dengan demikian dapat dikatakan variabel ac dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 2.
 Variabel harga : korelasi antar variabel harga dengan faktor 1 adalah yang paling besar ( 0,794 ) maka variabel harga dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 1.
 Variabel image : korelasi antar variabel image dengan faktor 1 adalah yang paling besar ( 0,730 ) maka variabel image dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 1.
 Variabel lampu : korelasi antar variabel lampu dengan faktor 2 adalah yang paling besar ( 0,777 ) maka variabel lampu dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 2.
 Variabel layout : korelasi antar variabel layout dengan faktor 3 adalah yang paling besar ( 0,783 ) maka variabel lampu dapat dimasukkan sebagai komponen faktor 3.
 Variabel lengkap : korelasi variabel ini dengan ketiga faktor hampir berimbang, dengan tidak ada satupun korelasi yang melewati “ cut off point ‘ sebesar 0,55, maka variabel ini terpaksa tidak dimasukkan dalam faktor 1, 2, dan 3.
 Variabel musik : korelasi variabel ini dengan ketiga faktor hampir berimbang, namun ada korelasi yang melewati “ cut off point ‘ sebesar 0,55, yaitu korelasi dengan faktor 2. Maka variabel ini dapat dimasukkan dalam faktor 2.
 Variabel pel_kas : korelasi variabel ini dengan ketiga faktor cukup berbeda, namun tidak ada satupun korelasi yang melewati “ cut off point ‘ sebesar 0,55, maka variabel ini terpaksa tidak dimasukkan dalam faktor 1, 2, dan 3.
 Variabel promosi : korelasi variabel ini dengan ketiga faktor cukup berbeda, namun tidak ada satupun korelasi yang melewati “ cut off point ‘ sebesar 0,55, maka variabel ini terpaksa tidak dimasukkan dalam faktor 1, 2, dan 3.
Dengan demikian, kesembilan variabel telah direduksi menjadi hanya terdiri atas tiga faktor, dengan tiga variabel terpaksa dikeluarkan dari ketiga faktor :
 Faktor 1 terdiri atas variabel harga dan image.
 Faktor 2 terdiri atas variabel ac, lampu, dan musik.
 Faktor 3 terdiri atas variabel layout.

5. COMPONENT PLOT IN ROTATED MATRIX ( Grafik )
Hasil rotasi faktor juga dapat diperlihatkan dengan grafik, di mana tampak terjadi pengelompokkan 3 faktor yang nyata, dengan 3 faktor yang dikeluarkan ( lengkap, pel_kas, dan promosi ) berada di tengah – tengah dan bukannya di salah satu sudut component yang mendekati angka + 1.

MENAMAKAN FAKTOR

Setelah diperoleh 3 faktor yang merupakan hasil reduksi dari 6 variabel, langkah berikut adalah memberi nama pada 3 faktor tersebut.
Faktor pertama yang terdiri atas variabel harga dan image dapat dinamakan FAKTOR EKSTERNAL, karena Image adalah persepsi dari konsumen dan harga barang sedikit banyak juga ditentukan faktor luar yang tidak dapat dikendalikan manajemen perusahaan. Perhatikan kedua faktor bertanda positif ( tidak ada bertanda ‘ – ‘ pada rotated component matrix ), yang berarti hubungan keduanya searah, dalam arti makin baik / tinggi image toko tersebut, maka harga barangnya cenderung semakin mahal / tinggi, dan sebaliknya.
Sedangkan faktor kedua yang terdii atas variabel ac, lampu, dan musik dapat dinamakan FKTOR PANCAINDERA, karena ac berhubungan dengan indera rasa konsumen ( dingin / nyaman ), lampu berhubungan dengan indera pengelihatan ( redup / terang ), dan musik berhubungan dengan indera pendengaran ( keras / lembut ).
Sedangkan faktor ketiga yang hanya berisi variabel layout, tentu dapat disebut FAKTOR LAYOUT, yaitu tata letak barang di toko.

PROPOSAL
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK – SD
SE- KOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN SEMARANG JURUSAN PKn
PADA TANGGAL 10 Januari 2010

1. LATAR BELAKANG
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, sekarang ini pendidikan anak usia dini sangat penting. Pendidikan usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut {Sumber : Perda Kota Semarang no 1 Tahun 2007 pasal 1 tentang penyelenggaraan pendidikan di Kota Semarang}. Selain itu pendidikan anak usia dini juga merupakan pembentukan mental dan karakter semasa kecil sebelum masuk sekolah pada tingkat pertama di Sekolah Dasar. Inilah yang disebut sebagai masa emas pada si anak tersebut. Melalui pendidikan pra sekolah, selain mental, seorang anak dipersiapkan secara matang untuk bersaing, mempunyai keterampilan tersendiri, menjadi seorang pemimpin yang handal, dan berani tampil di tengah-tengah masyarakat.
Dalam pelaksanaan pengembangan pendidikan pra sekolah setiap anak mempunyai hak untuk hidup dan berkembang, pemberian imunisasi, ASI, Gizi, Kesehatan, dan Monitoring pertumbuhan. Dan anak juga berhak untuk memperoleh perlindungan dari tindak kekerasan fisik, non fisik, diskriminasi dan eksploitasi, dan jaminan akte kelahiran. Agar pendidikan yang diberikan tidak sia-sia maka fungsi otak baik otak kanan maupun otak kiri diseimbangkan. Perbedaan teori fungsi otak kanan dan otak kiri telah populer sejak tahun 1960. Seorang peneliti bernama Roger Sperry menemukan bahwa otak manusia terdiri dari 2 hemisfer (bagian), yaitu otak kanan dan otak kiri yang mempunyai fungsi yang berbeda. Atas jasanya ini beliau mendapat hadiah Nobel pada tahun 1981. Selain itu dia juga menemukan bahwa pada saat otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya.
Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik dan warna. Daya ingat otak kanan bersifat panjang (long term memory). Bila terjadi kerusakan otak kanan misalnya pada penyakit stroke atau tumor otak, maka fungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi misalnya. Cara kerja otak kanan ini biasanya tidak terstruktur, dan cenderung tidak memikirkan hal-hal yang terlalu mendetail. Contoh orang yang mengandalkan otak kanannya dibandingkan otak kirinya adalah seniman.
Otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan dan logika. Daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kiri maka akan terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa dan matematika. Atau bisa diidentikkan dengan kecerdasan analitik. Maksudnya otak kiri kita ini terkait dengan kemampuan matematis dan kemampuan berpikir sistematis seseorang. Contohnya kemampuan menyelesaikan soal matematika. Cara kerja otak ini sangat rapi, terstruktur dan sistematis. Biasanya otak kiri ini sangat bermanfaat saat digunakan untuk memahami hal-hal yang kompleks dan perlu pemikiran yang mendetail. Orang yang biasanya lebih mengandalkan otak kiri adalah seorang peneliti atau scientist.
Ada asumsi yang mengatakan bahwa anak dikatakan pintar jika mampu calistung (baca, tulis, dan berhitung) dan memiliki logika yang kuat, sehingga masyarakat lebih cenderung mengasah otak kiri anak mereka untuk hal-hal yang tersebut diatas. Pendapat ini tidak salah namun juga tidak benar. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri diperlukan untuk mengasah kemampuan dan dapat menjadikan anak tersebut memiliki kepintaran ganda.
Contohnya kami dapat dari http://herinoto.com/otak-kiri-otak-kanan.php dengan uraian sebagai berikut : Seorang guru yang mengajar berhitung untuk kelas 3 SD, Masuk kelas dengan malas. ”Anak-anak, sekarang kita belajar berhitung,” kata guru. ”Jumlahkan bilangan : 1+2+3+4+5+6+7+…. dan seterusnya sampai terakhir tambah 2000 !” perintah guru. Guru tersebut berfikir bahwa anak-anak tidak akan mampu menyelesaikan tugas tersebut, yaitu menjumlahkan bilangan dari 1 sampai 2000 dalam waktu 2 jam – bahkan jika pakai kalkulator sekalipun. Sehingga guru tersebut dapat duduk-duduk santai saja. Tetapi tidak. Hanya dalam waktu sekitar 1 menit, seorang murid mengacungkan tangan dan berkata ”Saya bisa, saya sudah selesai”. Guru tersebut kaget, ”Mana mungkin,” pikirnya. Tetapi murid tersebut memang bisa, dan benar. Ia mengatakan jawaban dari soal itu adalah 2.001.000. Bagaimana caranya?
Murid itu mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dan cepat karena menggunakan otak kanan dan otak kiri secara harmonis. Otak kiri berpikir dengan cara urut, bagian perbagian, dan logis. Sementara otak kanan melengkapinya dengan cara berpikir acak, holistik, dan kreatif. Coba kita perhatikan cara murid itu menggunakan otak kiri dan otak kanannya sebagai berikut. Pertama, tuliskan kebali soal berhitung di atas sebagai berikut.
1+2+3+4+…. ….+1997+1998+1999+2000 = ….. ?
Pada saat kita mencoba menggunakan otak kiri saja, pasti sulit. Tapi coba gunakan otak kanan yang acak, … jumlahkan yang pertama dan terakhir. Kita peroleh :
1 + 2000 = 2001
2 + 1999 = 2001
3 + 1998 = 2001
4 + 1997 = 2001 dan seterusnya.
Sehingga kita peroleh jawaban 2001 x 1000 = 2.001.000
Dalam proses belajar atau kehidupan sehari-hari, orang sering hanya menggunakan setengah kemampuannya saja yaitu otak kiri. Saat kita belajar di sekolah misalnya, kita biasa dituntut untuk berpikir urut dan logis saja. Tetapi, seperti telah kita lihat dalam contoh anak kelas 3 SD di atas, kita perlu menggunakan setengah kemampuan yang lainnya yaitu otak kanan. Kita memang perlu keberanian untuk mencoba menggunakan otak kanan yang berpikir secara acak, menyeluruh dan kreatif itu. Sebagimana seekor burung dapat terbang bebas menggunakan dua sayapnya, sayap kiri dan kanan. Demikian juga kita, manusia dapat menerbangkan kecerdasan otak, kecerdasan berpikir setinggi langit dengan sayap-sayapnya, otak kiri dan otak kanan
Berdasarkan hal tersebut itulah kami, mahasiswa IKIP Veteran Semarang jurusan PKn dengan bantuan dari berbagai pihak baik IKIP Veteran maupun sponsor berniat mengadakan ” Lomba Mewarnai Dan Menggambar Tingkat TK – SD Se Kota Semarang”. Acara tersebut diatas diselenggarakan dengan 2 kategori yaitu kategori PAUD-TK untuk mewarnai dan kategori SD untuk menggambar. Alasan yang mendasar adalah ingin ikut berperan serta dalam mencerdaskan anak bangsa dan ikut serta dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas demi kemajuan bangsa Indonesia.
2. Nama Kegiatan
“LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK – SD SE – KOTA SEMARANG”
3. Tema Kegiatan
Menumbuhkan, mengasah dan mengelola kreatifitas anak Indonesia yang berkualitas melalui Keterampilan Menggambar dan Mewarnai dengan Tema :“Semarak Tahun Baru 2010”.
4. Maksud dan Tujuan Kegiatan
Diadakan lomba ini merupakan kegiatan anak-anak pra sekolah, TK, dan anak-anak Sekolah Dasar ( SD) di luar rumah atau di sekolah.
Sedangkan tujuan yang hendak dicapai yakni :
a. Mengembangkan kreatifitas, imajinasi anak serta menyalurkan bakat.
b. Melatih keselarasan motorik, penguatan percaya diri, pengembangan afeksi, dan komunikasi aktif.
c. Membentuk moral anak, daya pikir anak (kognitif), dan keterampilan anak (Psikomotor).
d. Melatih kemandirian dan tanggungjawab dalam mengerjakan sesuatu.
5. Target Kegiatan
a. Terlaksananya Kegiatan Lomba Mewarnai dan Menggambar dengan baik dan lancar.
b. Menghasilkan kreatifitas anak dalam penerapan kegiatan di luar rumah ataupun sekolah.
c. Dapat merumuskan kerangka berpikir secara strategis dalam menerapkan pengembangan potensi anak.
6. Sasaran Kegiatan
Peserta Lomba Mewarnai dan Menggambar ini terdiri dari :
a. Anak sekolah TK
b. Anak sekolah SD
7. Waktu dan Tempat Kegiatan
Lomba Mewarnai dan Menggambar ini diselenggarakan pada :
Hari : Minggu
Tanggal : 10 Januari 2010
Tempat : Kampus IKIP VETERAN
Alamat : Jl Pawiyatan Luhur IV/17 Semarang
8. Susunan Panitia
Terlampir
9. Susunan Acara
Terlampir
10. Ketentuan Umum
Terlampir
11. Petunjuk Pelaksanaan
Terlampir
12. Alokasi Dana
Terlampir

13. Penutup
Demikianlah proposal kegiatan Lomba Mewarnai dan Menggambar Tingkat TK – SD se Kota Semarang ini disusun dengan harapan dapat memberikan gambaran kerangka arahan dan visi perihal materi dan pelaksanaan program kegiatan tersebut. Besar harapan kami, kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik dan lancer. Atas bantuan dan dukungan dari semua pihak, kami mengucapkan terimakasih.

Semarang, Desember 2009
Panitia Lomba Mewarnai dan Menggambar Tingkat TK – SD
Se Kota Semarang

Ketua Sekretaris

Aprida Kusuma Wardani Lina Kusnani
NPM.0811001 NPM.09110085

Mengetahui,
Presiden BEM IKIP VETERAN Semarang Kajur Jurusan PKn
IKIP VETERAN Semarang

Suryo N Jati Tri Joko Purnomo SH
NPM.0612052 NIP.
A/n Rektor
Pembantu Rektor III

Drs.Amin Sujatmiko Msi
NIP. 131602706
LAMPIRAN I
SUSUNAN PANITIA
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK – SD
SE KOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN JURUSAN PKn
TAHUN 2010

Penanggung Jawab :Daniel Budhi Setiawan

Panitia Pelaksana
Ketua : Aprida Kusuma Wardani
Wakil Ketua : Rokhim
Sekretaris I : Lina Kusnani
Sekretaris II : Trie Herry Noviyanto
Bendahara I : Nur Chasanah
Bendahara II : Daniel Budhi Setiawan

Divisi Persiapan
Seksi Perijinan : M.Khoirun Ni’am,Rokhim,Achmad Fram Mutaqqin
Seksi Humas : Daniel Budhi Setiawan, Deni
Seksi Publikasi : Ida Nisakti, Aprida Kusuma Wardani, Rokhim
Seksi Sponsorship : Budi Taufik, Laila Kusuma N

Divisi Kesekretariatan
Seksi Pendaftaran : Yuliana , Nur Sofiatun
Seksi Daftar Ulang : Intan Mutia Ningrum, Heni Septiani, Yuliana

Divisi Pelaksanaan
Seksi Acara : Diah Styaningrum, Zuliya Ulfa, Dian K
Seksi Perlengkapan : Rizal Afuda,Sriyono
Seksi Dekorasi : Melianus, Irnawati
Seksi Transportasi : Achmad Arief
Seksi Konsumsi : Pomo, Ainul Huri
Seksi Hadiah : Novi Kartika Dewi, Nur Chasanah
Seksi Dokumentasi : Trie Herry Noviyanto, Laila Kusuma N
Seksi P3K : Niken Oktafiani, Indri Cahya Ningrum , Intan Mutia Ningrum
Seksi Keamanan : Adib Setiawan, Achmad Fram Mutaqqin, Tutik Alwiyah
Seksi Pembantu Umum : Semua Mahasiswa Semester I dan 3 Jurusan PKn
IKIP Veteran Semarang

LAMPIRAN II
SUSUNAN ACARA
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR SEKOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN JURUSAN PKn
TAHUN 2010

Tanggal Pendaftaran : 14 – 1 Januari 2010
Tempat Pendaftaran : Kampus IKIP Veteran Semarang
Biaya Pendaftaran : Rp 10.000,- / anak

Susunan Acara
08.00 – 09.30 : Registrasi / Daftar Ulang Peserta
09.30 – 09.45 : Pembukaan
– Sambutan dari Rektor IKIP Veteran
– Sambutan dari Dekan IKIP Veteran
– Sambutan dari Kajur PKn
– Sambutan dari Ketua Panitia
– Menyanyikan HYMNE IKIP VETERAN Semarang
09.45 – 12.00 : Pelaksanaan Lomba Mewarnai dan Menggambar
12.00 – 12.20 : Pengumpulan kertas lomba
12.20 – 13.30 : Hiburan
13.30 – selesai : Penutup

LAMPIRAN III
KETENTUAN UMUM
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK –SD
SE KOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN JURUSAN PKn
TAHUN 2010

1. Setiap sekolah / lembaga pendidikan mengirimkan perwakilan wajib sebanyak 5 (lima) peserta.
2. Bila terdapat tambahan peserta diperbolehkan.
3. Biaya pendaftaran sebesar Rp 10.000,- / peserta.
4. Segala ketentuan yang tidak tertulis dapat ditanyakan kepada panitia sebelum pelaksanaan lomba.
5. Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat.
6. Juara Lomba akan mendapatkan hadiah piala, piagam penghargaan, kursus menggambar dan mewarnai, uang pembinaan, serta bingkisan menarik.

LAMPIRAN IV
PETUNJUK PELAKSANAAN
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK – SD
SE KOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN JURUSAN PKn
TAHUN 2010

1. Peserta : Kategori A (PAUD – TK)
Kategori B (SD)

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari/ Tanggal : Minggu, 10 Januari 2010
Tempat : Kampus IKIP VETERAN Semarang
Waktu : 08.00 WIB – selesai

3. Kriteria Lomba
Materi : Kategori A (Mewarnai gambar)
Kategori B ( Menggambar dan Mewarnai)
Penilaian : Gambar dan keharmonisan warna
Peralatan : Kertas gambar disediakan panitia, peralatan bawa sendiri

4. Prosedur Pelaksanaan
a. Peserta wajib daftar ulang pukul 08.00 – 09.30 WIB
b. Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat
c. Hasil gambar tidak dapat diminta dan menjadi hak milik panitia

5. Kejuaraan
Juara I : Piala, Piagam Penghargaan, Uang Pembinaan,
Kursus gratis berlatih menggambar di Merby dan bingkisan
Menarik

Juara II : Piala, Piagam Penghargaan, Uang Pembinaan, dan bingkisan
Menarik

Juara III : Piala, Piagam Penghargaan, Uang Pembinaan, dan bingkisan
Menarik

Juara Harapan I : Piala dan Piagam Penghargaan
Juara Harapan II : Piala dan Piagam Penghargaan

6. Pendaftaran
Tempat : IKIP Veteran Semarang
Biaya : Rp 10.000,-/anak

Contact Person :
1. Aprida (081326590897)
2. Daniel (085726838177)
3. Yuliana (081914405185)

LAMPIRAN V
SUSUNAN RENCANA ANGGARAN BIAYA
KEGIATAN LOMBA MEWARNAI DAN MENGGAMBAR TINGKAT TK – SD
SE KOTA SEMARANG
DISELENGGARAKAN OLEH IKIP VETERAN JURUSAN PKn
TAHUN 2010

ESTIMASI PEMASUKAN
1. SUBSIDI PESERTA
Kategori A : – PAUD Rp10.000 x 200 Orang = Rp 2.000.000
– TK Rp 10.000 x 200 Orang = Rp 2.000.000
Kategori B : SD Rp 10.000 x 1288 Orang = Rp 12.880.000
2. SUBSIDI LEMBAGA = Rp 11.850.000
3. SUBSIDI DARI SPONSOR = Rp 21.228.000
TOTAL = Rp 49.958.000

ESTIMASI PENGELUARAN
KESEKRETARIATAN
1. Penggandaan Proposal 20xRp 25.000 = Rp 500.000
2. Bantalan + Stempel = Rp 75.000
3. Tinta Stempel = Rp 30.000
4. HVS 80 gram 6 rim x @Rp 40.000 = Rp 240.000
5. Tinta Printer 5 x @ Rp 25.000 = Rp 125.000
6. Foto Copy = Rp 350.000
7. Amplop surat ber kop 4 x @ Rp 75.000 = Rp 300.000
8. Pembelian perangko 100 sekolah x @ Rp 1500 = Rp 1.500.000
9. Pengiriman Proposal 20 x @ Rp 20.000 = Rp 400.000
TOTAL = Rp 3.520.000

PERLENGKAPAN
1. Brosur pendaftaran 1500 x 1000 = Rp 1.500.000
2. Dekorasi = Rp 300.000
3. Sewa Tratak 8 X @ Rp250.000 = Rp 1.600.000
4. Sewa Badut dan Sulap = Rp 500.000
5. Sewa Solo Organ dan Paduan Suara IKIP VETERAN = Rp 1.000.000
6. Sewa Sound System = Rp 200.000
7. Hadiah
Piala+Piagam Penghargaan 10 x Rp 400.000 = Rp 4.000.000
Uang Pembinaan = Rp 5.600.000
Juara I 2 x@ Rp 1.000.000
Juara II 2 x @ Rp 800.000
Juara III 2 x @ Rp 600.000
Juara Harapan I dan II 4x @ Rp 200.000
Bingkisan / Souvenir 10 x Rp 150.000 = Rp 1.500.000
Kursus Menggambar dan Mewarnai 2 X Rp 375.000 = Rp 750.000
8. Biaya P3K = Rp 100.000
9. Biaya Keamanan 5 Satpam x Rp 100.000 = Rp 500.000
TOTAL = Rp 17.550.000

TRANSPORTASI
1. Transportasi Juri 3 x @ Rp 300.000 = Rp 900.000
2. Akomodasi Pembawa Acara 2 x @ Rp 100.000 = Rp 200.000
TOTAL = Rp 1.100.000

ACARA
1. Buku Pendaftaran 4 x @ Rp 10.000 = Rp 40.000
2. Buku Daftar Ulang Peserta 4 x @ Rp 10.000 = Rp 40.000
3. Kertas Gambar 3000 anak x Rp 1000 = Rp 3.000.000
4. Alat Tulis (Spidol Juri) 3 x Rp 6.000 = Rp 18.000
TOTAL = Rp 3.098.000

KONSUMSI
1. Konsumsi Juri 3 x Rp 30.000 = Rp 90.000
2. Konsumsi Panitia 38 x Rp 20.000 = Rp 760.000
3. Konsumsi Pembawa acara 2 x Rp 20.000 = Rp 40.000
4. Konsumsi Peserta Lomba 3000 anak x Rp 7.500 = Rp 22.500.000
TOTAL = Rp 23.390.000

DOKUMENTASI DAN PUBLIKASI
1. Cetak foto = Rp 500.000
2. Baterai 20 x Rp 5.000 = Rp 100.000
3. Publikasi = Rp 700.000
TOTAL = Rp 1.300.000

REKAPITULASI
1. Kesekretariatan = Rp 3.520.000
2. Perlengkapan = Rp 17.550.000
3. Transportasi = Rp 1.100.000
4. Acara = Rp 3.098.000
5. Konsumsi = Rp 23.390.000
6. Dokumentasi dan Publikasi = Rp 1.300.000
TOTAL = Rp 49.958.000

Ujian Nasional merupakan salah satu jenis penilaian yang diselenggarakan pemerintah guna mengukur keberhasilan belajar siswa. Dalam beberapa tahun ini, kehadirannya menjadi perdebatan dan kontroversi di masyarakat. Di satu pihak ada yang setuju, karena dianggap dapat meningkatkan mutu pendidikan. Dengan adanya ujian nasional, sekolah dan guru akan dipacu untuk dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya agar para siswa dapat mengikuti ujian dan memperoleh hasil ujian yang sebaik-baiknya. Demikian juga siswa didorong untuk belajar secara sungguh-sungguh agar dia bisa lulus dengan hasil yang sebaik-baiknya.
Sementara, di pihak lain juga tidak sedikit yang merasa tidak setuju karena menganggap bahwa Ujian Nasional sebagai sesuatu yang sangat kontradiktif dan kontraproduktif dengan semangat reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan.
Saat ini ada kecenderungan untuk menggeser paradigma model pembelajaran kita dari pembelajaran yang lebih berorientasi pada pencapaian kemampuan kognitif ke arah pembelajaran yang lebih berorientasi pada pencapaian kemampuan afektif dan psikomotor, melalui strategi dan pendekatan pembelajaran yang jauh lebih menyenangkan dan kontekstual, dengan berangkat dari teori belajar konstruktivisme.
Sampai saat ini khususnya di Negara Indonesia, belum ada pola baku sistem ujian akhir untuk siswa. Perubahan sering terjadi seiring dengan pergantian pejabat. Hampir setiap pejabat ganti, kebijakan sistem juga ikut berganti rupa.

Periode 1950-1960-an
Ujian akhir disebut Ujian Penghabisan. Ujian Penghabisan diadakan secara nasional dan seluruh soal dibuat Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Seluruh soal dalam bentuk esai. Hasil ujian tidak diperiksa di sekolah tempat ujian, tetapi di pusat rayon.

Periode 1965-1971
Semua mata pelajaran diujikan dalam hajat yang disebut ujian negara. Bahan ujian dibuat oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk seluruh wilayah di Indonesia. Pemerintah pusat pula yang menentukan waktu ujian.

Periode 1972-1979
Pemerintah memberi kebebasan setiap sekolah atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian sendiri. Pembuatan soal dan proses penilaian dilakukan masing-masing sekolah atau kelompok. Pemerintah hanya menyusun pedoman dan panduan yang bersifat umum.

Periode 1980-2000
• Mulai diselenggarakan ujian akhir nasional yang disebut Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Model ujian akhir ini menggunakan dua bentuk: Ebtanas untuk mata pelajaran pokok, sedangkan EBTA untuk mata pelajaran non-Ebtanas.
• Ebtanas dikoordinasi pemerintah pusat dan EBTA dikoordinasi pemerintah provinsi.
• Kelulusan ditentukan oleh kombinasi dua evaluasi tadi ditambah nilai ujian harian yang tertera di buku rapor.

Periode 2001-sekarang
• Ebtanas diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan berubah menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak 2002.
• Kelulusan dalam UAN 2002 ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual.
• Dalam UAN 2003 siswa dinyatakan lulus jika memiliki nilai minimal 3,01 pada setiap mata pelajaran dan nilai rata-ratanya minimal 6.
• Dalam UAN 2004 kelulusan siswa didapat berdasarkan nilai minimal pada setiap mata pelajaran 4,01. Syarat nilai rata-rata minimal tidak diberlakukan lagi.
Kebijakan yang menjadi dasar adanya Ujian Nasional yaitu :
a. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 011/U/2002 tentang Penghapusan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional Sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa Tingkat Dasar, dan Madrasah Ibtidaiyah
b. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor 012/U/2002 tentang Penilaian di sekolah Dasar, Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Luar Biasa Tingkat Dasar, dan Madrasah Ibtidaiyah
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Pasal 63
– Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah.
– Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas penilaian hasil belajar oleh pendidik, penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 64
– Penilaian hasil belajar oleh pendidik sebagaimana disebutkan pasal 63 ayat 1 dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas
– Penilaian digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik, bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
– Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui : pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik serta ujian, ulangan dan atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
– Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai.
Pasal 66
– Penilaian hasil belajar bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional.
– Ujian nasional dilakukan secara objektif, berkeadilan, dan akuntabel
– Ujian nasional diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak- banyaknya dua kali dalam satu tahun pelajaran.
Pasal 67
– Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan ujian nasional yang diikuti peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur non formal kesetaraan.
– Dalam penyelenggaraan ujian nasional, BSNP bekerjasama dengan instansi terkait di lingkungan pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kab/ Kota, dan satuan pendidikan.
– Ketentuan mengenai ujian nasional diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.
Pasal 68
– Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu program dan atau satuan pendidikan, dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, penentuan kelulusan peserta didik dari program dan atau satuan pendidikan, pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pasal 69
– Setiap peserta didik jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan jalur nonformal kesetaraan berhak mengikuti ujian nasional dan berhak mengulanginya sepanjang belum dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.
– Setiap peserta wajib mengikuti satu kali ujian nasional tanpa dipungut biaya.
– Peserta didik pendidikan informal dapat mengikuti ujian nasional setelah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BSNP.
– Peserta ujian nasional memperoleh surat keterangan hasil ujian nasional yang diterbitkan oleh satuan pendidikan penyelenggara ujian nasional.

d. Undang – Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003
Pasal 57
– Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
– Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Pasal 58
– Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
– Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan
Pasal 59
– Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
– Masyarakat dan atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 58.
– Ketentuan mengenai evaluasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Dalam melakukan pengujian, maka digolongkan menjadi 3 bagian yaitu :
a. Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian ini bersifat internal dan penilaiannya dilakukan selama proses pembelajaran sehingga hasilnya menjadi masukan bagi peningkatan mutu pelajaran. Prinsip dasarnya yaitu :
– Dilakukan oleh guru dan siswa
Guru merupakan tokoh kunci dalam penilaian, karena dianggap sebagai orang yang paling tau tentang karakteristik dan tingkat pencapaian belajar siswa serta mengikuti tiap tahap perkembangan siswa.
Siswa harus diberikan informasi secukupnya mengenai penilaian yang akan dilakukan.
– Tidak terpisahkan dari KBM (kegiatan belajar mengajar)
Pengumpulan informasi pencapaian belajar siswa tidak dilakukan hanya pada akhir pembelajaran saja, tetapi dilakukan secara terus menerus dan terintegrasi dengan kegiatan belajar mengajar.
– Dengan acuan patokan
Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok (norm reference assessment), tetapi dibandingkan dengan materi sebelumnya, criteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, untuk membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya.
– Menggunakan berbagai cara penilaian (tes/non tes)
Pengujian dilakukan dengan tes maupun non tes baik secara sendiri-sendiri atau berdampingan untuk memperoleh informasi secara lengkap dan akurat.
– Mencerminkan kompentensi siswa secara komprehensif
Penilaian yang dilakukan meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan nilai (afektif) yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak
– Berorientasi pada kompetensi
Penilaian berorientasi pada kompetensi, maksudnya adalah kurikulum. Semua kompetensi ditumbuhkembangkan pada diri siswa dan tiap siswa mendapat peluang yang sama untuk dinilai.
– Valid
Penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa, misalnya apabila pembelajaran menggunakan eksperimen maka kegiatan melakukan eksperimen harus menjadi salah satu objek yang dinilai.
– Adil
Penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang social-ekonomi, budaya, bahasa, dan jender.
– Terbuka
Kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan bahwa siswa telah menguasai suatu kompetensi harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
– Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, dan secara terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.
– Bermakna
Penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna dan bisa ditindaklanjuti oleh semua pihak terutama bagi siswa dan orang tua.
– Mendidik
Penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa. Hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar bagi siswa yang kurang berhasil.

b. Penilaian secara Nasional maupun Internasional
Penilaian secara nasional maupun internasional merupakan kegiatan pengujian materi kepada siswa yang terpilih dari beberapa sekolah kemudian digabungkan ke dalam suatu komunitas tertentu dan dilombakan menurut materi terpilih. Hal ini dibutuhkan karena dapat memicu mutu pendidikan dan menumbuhkan semangat guru dan siswa untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Contoh dari adanya olimpiade materi tertentu (misal : olimpiade matematika, fisika, dll) secara nasional maupun internasional.

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.
Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah, nasional, provinsi.
UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting?
Berdasarkan hal tersebut diatas, kemudian banyak pro dan kontra mengenai penyelenggaraan Ujian Nasional. Ada yang menganggap 3 pelajaran tersebut penting dan juga yang menganggap pelajaran tersebut bukan merupakan satu-satunya pelajaran yang paling penting.
Para pengamat pendidikan yang menyetujui UN tetap dipertahankan, termasuk IPB yang mendukung hal tersebut (Sumber : http://www.tvone.co.id) menilai bahwa Ujian Nasional memiliki nilai untuk menjaga mutu pendidikan. Sedangkan pengamat pendidikan yang tidak mendukung hal tersebut, memiliki alasan yaitu :
• Dapatkah tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran memberikan gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik?
• Dapatkah tes tersebut memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian?
• Dapatkah tes tertulis melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak?
• Dapatkah tes di ujung tahun ajaran menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya?
• Bagaimana kalau terjadi anak sakit pada saat mengikuti tes?
• Apakah hasil tes dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak selama mengikuti pelajaran?

Kalau saya sie, Saya setuju dengan dipertahankannya Ujian Nasional di Indonesia. Hal ini untuk standarisasi mutu pendidikan di Indonesia. Saya menilai, jika tidak ada standarisasi mutu pendidikan maka lambat laun mutu pendidikan akan semakin jauh merosot. Memang saya akui, di daerah-daerah pedesaan atau daerah pelosok mungkin tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai, namun jika tidak ada standarisasi mutu pendidikan, mereka akan semakin jauh tertinggal dengan daerah lainnya. Adanya kesenjangan antar daerah malah akan menimbulkan masalah baru.
Tidak bisa dibayangkan apabila pengujian dilakukan sesuai dengan sekolah masing-masing. Biasanya pengujian seperti ini akan memicu adanya “subjektifitas” dari guru sebagai pendidik, dan yang paling parah yaitu “pendidikan yang diperjualbelikan” oleh oknum pendidik yang tidak bertanggungjawab. Siswa bisa mendapatkan nilai yang bagus, namun bagaimana dengan kemampuan yang dimilikinya?.
Yang terpenting adalah “kejujuran”. Selama ini Ujian Nasional diseragamkan, tidak ada pembedaan antara daerah satu dengan daerah yang lainnya. Namun panitia Ujian Nasional diserahkan oleh masing-masing daerah yang bersangkutan. Dengan adanya target bahwa siswa harus lulus 100%, maka ada beberapa oknum yang berjuang untuk meluluskan anak didiknya dengan jalan menyimpang, seperti mengirimkan sms jawaban kepada siswanya (pernah terjadi di SMA N di Semarang), membocorkan data soal dan jawaban, dll. Selain itu, dari pihak siswa juga terbiasa untuk “tidak jujur” , sehingga melakukan tindakan yang menyimpang seperti menyontek, dll. Faktor utamanya adalah untuk menaikkan nilai sebagai dasar penentuan keberhasilan siswa. Padahal bukan itu tujuan utama dari pendidikan, karena kualitas pendidikanlah yang menjadi tonggak kemajuan bangsa Indonesia sehingga tidak kalah bersaing dengan luar negeri.
Pendidikan kejujuran dan pendidikan mengenai kedisiplinan sudah selayaknya mendapat tempat untuk menanamkan sikap mental yang berkualitas. Pendidikan untuk menanamkan “budaya malu jika tidak jujur “ perlu disosialisasikan. Susah memang, namun perlu dicarikan metodologinya agar pendidikan di Indonesia dapat berkembang optimal. Negara lain bisa kenapa kita tidak bisa? Saya pernah dengar, dahulu Malaysia belajar tentang pendidikan di Indonesia. Mereka mengirimkan banyak tenaga pendidik untuk belajar di Indonesia. Malaysia mengakui bahwa Indonesia gudangnya pendidikan berkualitas. Semua materi yang ada di Indonesia diserap dan didayagunakan. Mereka dapat mengaplikasikan dengan baik dan sekarang justru Indonesialah yang ketinggalan. Saya rasa karena ketidakjujuran sudah menjadi budaya dari generasi ke generasi. Masih banyak masyarakat yang berpikir yang penting dapat nilai bagus, namun kemampuan otak tidak diasah dengan baik. Sebenarnya tidak ada orang yang bodoh atau orang yang pintar. Semua manusia sama, baik di Indonesia maupun di Negara manapun, memiliki kemampuan otak yang sama. Yang membedakan adanya stimulasi-stimulasi yang diberikan secara terus menerus dan berkesinambungan agar kemampuan otak dapat digunakan secara optimal. Ada pakar yang mengatakan bahwa sebagian besar manusia hanya menggunakan 5- 10 % dari kemampuan otak yang dimilikinya. Sesuatu yang rugi bila kemampuan otak didayagunakan tidak semaksimal mungkin untuk mengelola alam dan kehidupannya serta mengenal seluk beluk ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini.

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan jumlah penduduk yang semakin padat, maka kebutuhan akan lahan pun bertambah. Namun pertambahan jumlah penduduk tersebut tidak diikuti dengan pertambahan luas lahan. Manusia dengan segala akal pikirannya berusaha untuk memenuhi kebutuhannya akan lahan yang siap bangun. Salah satu kebutuhan akan lahan yang mendesak seiring dengan semakin padatnya penduduk adalah untuk mendirikan perumahan. Penggundulan hutan dan penggunaan lahan konservasi untuk pembangunan fisik akan mengurangi daerah resapan air yang mengakibatkan air larian makin besar . Hal lain yang akan terjadi adalah adanya erosi yang berakibat penumpukan tanah di dasar sungai sehingga terjadi pendangkalan sungai yang berarti memperkecil daya tampung air sehingga kemungkinan air sungai akan meluap menjadi lebih besar. Walaupun pembangunan tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan perumahan, tetapi seharusnya juga perlu memperhatikan dampak-dampak yang mungkin timbul. Ironisnya, hal tersebut sangat kurang disadari dan diperhatikan oleh masyarakat. Salah satunya adalah adanya perubahan penggunaan lahan, yaitu dari lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun. Ini akan berdampak terhadap konversi hidrologi wilayah tersebut . Hal tersebut sangat penting karena peralihan ini terkait dengan peningkatan volume pengambilan air tanah yang diiringi dengan penurunan volume air yang masuk akibat perubahan rona kawasan dari yang kosong menjadi penuh dengan bangunan-bangunan fisik perkotaan. Selain itu juga meningkatkan terjadinya erosi tanah yang nantinya juga akan meningkatkan resiko terjadinya banjir.
Perubahan penggunaan lahan dapat memberikan pengaruh terhadap terjadinya banjir dengan periode berulang antara 5 sampai 20 tahun dengan catatan bahwa perubahan yang terjadi adalah perubahan dari lahan non-terbangun menjadi lahan terbangun sehingga terjadi penurunan laju infiltrasi tanah atau meningkatkan air larian. Selain itu juga bahwa luasan lahan yang terbangun di daerah hulu DAS semakin meningkat dari tahun ketahun. Akibatnya koefisien air larian menjadi bertambah, karena dulu sebelum menjadi lahan terbangun masih terdapat vegetasi yang menutupi dapat langsung menyerap air yang jatuh ke atasnya, namun setelah menjadi lahan terbangun maka air tersebut tidak dapat meresap dan akhirnya lolos dan masuk ke saluran atau sungai terdekat. Akibatnya debit sungai menjadi semakin besar ditambah lagi dengan adanya erosi sedimentasi dari air yang mengikis tebing-tebing sungai. Debit air sungai tersebut dan sebelum sampai ke muara sudah menggenangi daerah yang berada di sekitar sungai tersebut sehingga terjadilah banjir. Selain itu sampah padat yang dihasilkan oleh penduduk pada wilayah tertentu akan menyumbat saluran sehingga dapat mengakibatkan banjir.

1.2 Tujuan dan Sasaran
1.2.1 Tujuan
Tujuan penulisan laporan tugas ini adalah untuk mengamati, mengidentifikasi, mendeskripsikan serta menganalisis perubahan fungsi lahan serta pertambahan jumlah penduduk terhadap bahaya banjir genangan di Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Tugu dan Kecamatan Mijen.
1.2.2 Sasaran
Sasaran dari pengerjaan tugas ini adalah :
 Identifikasi wilayah studi.
 Analisis keterkaitan antara jumlah penduduk, luasan lahan terbangun dengan luas genangan banjir.
 Memberikan rekomendasi atas kondisi yang terjadi di wilayah studi.
1.3 Ruang Lingkup Studi
1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah dalam penulisan laporan ini adalah Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Tugu dan Kecamatan Mijen. Alasan mengangkat studi kasus di kecamatan-kecamatan tersebut adalah karena didaerah tersebut sering terjadi banjir genangan. Hal itu terjadi karena faktor kondisi lingkungan alamnya yang rentan terhadap bahaya banjir, ditambah dengan adanya pembukaan hutan secara besar–besaran sebagai kawasan permukiman. Contoh nyata bisa terlihat dari pembangunan BSB dan perumahan–perumahan lainnya.
1.3.2 Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup pembahasan laporan ini menitikberatkan pada perubahan fungsi lahan dan kepadatan penduduk di tiap-tiap kecamatan terhadap bahaya banjir genangan.
1.4 Alur Pikir Penyusunan laporan

1.5 Metodologi Pendekatan
Metode yang digunakan dalam penyusunan tugas Analisis Sumber Daya dan Lingkungan adalah :
• Survai Sekunder
Yaitu survai pada instansi-instansi terkait ( Bappeda, BPN, BPS, Dinas Pertambangan, dan lain-lain.)
• Menggunakan literatur-literatur yang berhubungan dengan pengembangan wilayah dan geologi lingkungan.

1.6 Sistematika Penyusunan
Bab I Pendahuluan, berisi tentang latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup materi dan wilayah, alur pikir penyusunan laporan, metodologi pendekatan serta sistematika penyusunan.
Bab II Gambaran Umum, berisi tentang Gambaran Umum Kota Semarang dan Gambaran Umum Wilayah Studi yang meliputi letak geografis, drainase kota Semarang, klimatologi, topografi, dan jumlah penduduk.
Bab III Kajian Literatur, berisi tentang konsep dasar, definisi tentang banjir, variabel-variabel penyebab banjir.
Bab IV Studi Kasus, berisi tentang penyebab banjir pada wilayah studi dan analisis pemecahannya
Bab V Penutup, berisi kesimpulan dan rekomendasi kasus.

2.1 Gambaran Umum Kota Semarang
Ditinjau dari topografinya, wilayah Semarang terdiri atas dataran rendah yang terhampar di bagian utara, dan perbukitan yang terhampar di daerah selatan dengan ketinggian permukaan laut berkisar dari 0 m dari permukaan laut di daerah dataran rendah dan 50-350 m dari permukaan laut di daerah perbukitan. Selain itu juga kemiringan daerah ini juga beragam berkisar dari 0-45% dimana daerah bagian selatan mempunyai kemiringan yang cukup tajam yaitu 45%.
Kondisi topografi Semarang seperti diuraikan diatas kurang menguntungkan dalam perkembangan wilayah pusat kota Semarang sebagai pusat pertumbuhan terutama di bagian utara yang terlalu rendah dan datar menimbulkan banyak kesulitan dalam memecahkan masalah drainase. Sedangkan di daerah selatan yang merupakan daerah berbukit dan curam kurang menguntungkan untuk dikembangkan sebagai daerah perkotaan. Hambatan fisik tersebut secara tidak langsung membatasi jumlah lahan yang layak bangun karena diputus biaya tinggi untuk dapat dikembangkan sebagai daerah pemukiman. Keterbatasan lahan layak bangun ini merupakan sebab dari pola perkembangan wilayah perkotaan Semarang secara menyebar menjadi beberapa kantong-kantong pemukiman.
Struktur geologi Semarang dibedakan atas daerah dataran rendah dan perbukitan. Daerah dataran rendah, struktur geologis berupa batuan endapan (alluvium) yang berasal dari endapan sungai, sehingga mengandung pasir dan lempung. Sedangkan daerah perbukitan merupakan struktur geologi yang sebagian besar terdiri dari batuan beku.
Temperatur udara (max-min) di Semarang tercatat 33,70 C dengan temperatur tertinggi pada bulan September dan temperatur terendah pada bulan Juli dan Agustus (22,40 C). Adapun tipe hujan termasuk dalam kategori tipe C (agak basah) dengan perbandingan curah hujan rata-rata antara bulan basah (Oktober-Maret) dan bulan kering (April-September) sebesar 4 : 1. Jumlah hari hujan mencapai 153 hari/tahun dengan curah hujan sebesar 2,792 mm/tahun.
Kelembaban nisbi rata-rata mencapai 79% dengan presentasi terbesar pada bulan Desember yang mencapai rata-rata 85% serta arah angin sebagian besar bergerak dari arah tenggara barat laut dengan kecepatan rata-rata antara 5,9 km/jam.
Sungai-sungai beserta arah sungai yang mengalir di kota Semarang diantaranya Kali Garang, Kali Kreo, Kali Kripik, dan Kali Lengka serta Kali Blorong mengalir di daerah Kendal berasal dari Gunung Ungaran, Kali Babon dengan anak-anak sungainya yang bermata air di Gunung Butak, Kali Semarang, Kali Siangker, Kali Boom Kendal, Kali Mangkang dan sungai-sungai kecil lainnya yang bermata air di daerah dataran tinggi wilayah kecamatan.
Selain itu untuk mencegah banjir kiriman, Belanda membuat kanal banjir dari Simongan ke utara menuju laut jawa, dikenal dengan banjir kanal barat dan di kali babon yaitu desa Pucanggading ke arah barat dan bermuara di Laut Jawa yang dikenal dengan banjir kanal timur.

2.1.1 Permasalahan fisik kota Semarang
Fisiografis Semarang berada pada tiga daerah, yaitu daerah rendah, pegunungan, dan transisi. Ketiga daerah mempunyai karakteristik fisik yang berlainan.
Daerah rendah membentang sepanjang pantura, lebar antara 3-10 km, kelerengan lahan datar sekitar 0-2% dengan ketinggian maksimal 10 m dpl, beberapa daerah berada pada ketinggian sekitar 0,7 m di bawah MSL yang merupakan daerah endapan alluvial yang cukup tebal (30-45 m), daya dukung tanah yang relatif rendah. Kendala pengembangan pada daerah ini adalah banjir (lokal, kiriman, air pasang,) dan penurunan kawasan.
Daerah transisi, ketinggian daerah ini antara 50-200 MSL terdapat lokasi yang kurang menguntungkan untuk dikembangkan karena terdapat perpotongan struktur geologi yang berupa sesar normal, memotong lipatan antiklin dan sinklin. Terdapat pula kelerengan yang cukup terjal (25-0%) karena pertemuan antara daerah rendah dan transisi. Lokasi tersebut berada pada wilayah kecamatan Ngaliyan, Gunungpati, Semarang selatan, Karangawen, Gajahmungkur, Tembalang, dan Klepu.

2.1.2 Drainase Kota Semarang
Daerah dataran pantai dibagi atas 4 bagian wilayah drainase, Semarang bagian timur, Semarang bagian tengah, Semarang bagian barat, dan kecamatan Tugu. Wilayah drainase Semarang bagian timur mencakup luas 47,8 km2 yang dibatasi oleh pantai sebelah utara, banjir kanal timur di bagian barat dan selatan, dan Kali Baton di sebelah timur. Wilayah ini dibagi menjadi 2 bagian wilayah drainase: Kali Seringin dengan luas 14 km2 dan Kali Tenggang dengan luas 28 km2. Wilayah ini berupa lahan pertanian yang saat ini juga berkembang sebagai daerah industri dan pemukiman.
Wilayah drainase Semarang bagian tengah yang meliputi arel seluas 27,2 km2 terletak antara banjir kanal barat dengan banjir kanal timur merupakan bangunan kota yang paling berkembang. Wilayah ini dibagi menjadi 3 bagian layanan drainase yaitu Kali Semarang dengan luas layanan 11,2 km2, kali asin dengan luas 4,25 km2, Kali Banger dengan luas 6,4 km2, dan Kali Bulu dengan luas 0,5 km2.
Wilayah drainase Semarang bagian barat mencakup arel dengan luas 12,4 km2 yang terletak diantara Kali Siangker dan banjir kanal barat. Wilayah ini melayani daerah PRPP, pusat rekresi marina, dan bandara A.Yani. Wilayah ini dibagi menjadi 3 bagian pelayanan, kali karangayu-ronggolawe dengan luas 4,5 km2, kali tawang dengan luas 1,4 km2, dan kali silandak dengan luas 1,4 km2.
Wilayah drainase kecamatan Tugu memiliki daerah pelayanan seluas 3,4 km2 yang terletak antara batas kota Semarang dengan Kali Silandak. Saluran drainase pada wilayah ini diharapkan akan melayani kawasan industri yang akan dikembangkan di daerah ini.
Daerah dataran pantai berada di bawah 50 m dpl. Daerah ini mempunyai lebar 4-10 km dan merupakan lahan yang potensial sebagai daerah pengembangan kota. Pada daerah ini bermuara beberapa sungai dengan kemiringan sangat landai, yaitu antara 1:2000 hingga 1:5000 yang sangat rawan banjir. Sungai-sungai penting yang mengalir pada daerah ini adalah Kali Blorong, Kali Bringin, Kali Silandak, banjir kanal barat (Kali Garang), dan banjir kanal timur.
Untuk mengatasi masalah banjir, beberapa proyek pengendalian banjir telah dan sedang dalam pelaksanaan. Proyek-proyek ini berupa pekerjaan perbaikan atau normalisasi saluran yang terpadu dengan program pengembangan sistem drainase kota yang tertuang dalam Semarang-Surakarta (Urban Development Project). Beberapa sungai utama di Semarang merupakan bagian jaringan pengendalian banjir dan drainase kota yang sedang ditangani, seperti:

 Kali Blorong
 Kali Beringin
 Kali Silandak
 Banjir Kanal Barat
 Banjir Kanal Timur
 Kali Babon

Ada 3 klasifikasi banjir atau genangan air di Semarang yaitu banjir kiriman, banjir lokal, dan banjir rob (air laut pasang).
Banjir kiriman, banjir besar tercatat pada tahun 1973, 1988, 1990. Banjir pada bulan Januari tahun 1990 akibat luapan Kali Garang yang menimbulkan 47 korban jiwa, 151 rumah tergenang air, kerugian total ditaksir sekitar Rp. 8,5 milliar. Daerah yang mengalami kerugian terbesar meliputi Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Selatan. Ketinggian genangan/banjir mencapai 3,00 m selama 3-5 jam, sedang yang baru-baru ini terjadi bulan Januari 2000 adalah di Kecamatan Tugu yang menggenangi sawah, tambak dan pemukiman di gedung kelurahan.
Banjir lokal, ketinggian genangan air antara 0,2 – 0,7 m, lama genangan antara 1-8 jam terdapat pada dataran rendah. Wilayah yang sering tergenang meliputi kecamatan Semarang Utara, Semarang Timur, Semarang Barat, Semarang Tengah, Genuk, Gayasari, Mranggen, Sayung, dan Kaliwungu.
Banjir pasang (rob), merupakan banjir akibat air laut pasang yang terjadi pada wilayah kecamatan Semarang utara dan sebagian kecamatan Semarang barat. Ketinggian genangan 0,2 – 0,7 m dengan lama genangan 3-6 jam.

2.1.3 Klimatologi
Klimatologi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban, lama penyinaran dan kecepatan angin merupakan aspek-aspek yang akan diuraikan dalam klimatologi. Pada dasarnya, iklim di wilayah Kecamatan Ngaliyan, Mijen dan Tugu hampir sama dengan daerah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis. Iklim Kecamatan Ngaliyan, Mijen dan Tugu mengikuti iklim mikro Kota Semarang. Iklim yang terdapat di kecamatan-kecamatan tersebut sangat dipengaruhi ragam vegetasi serta beberapa variasi lain karena adanya pengaruh sungai dan kontur. Suhu rata-rata 27,3C, suhu maksimum rata-rata 31,84C dan suhu minimum rata-rata 22,8C. Sedangkan curah hujan rata-rata cukup tinggi, yaitu berkisar 2541 mm/Th , dengan rata-rata 162 hari hujan. Kelembaban udara relatif rata-rata 77,6%, sedangkan kelembaban nisbinya 7,9%.
Tabel. 2.1.3.1
Klimatologi Tiap Lokasi yang menjadi Wilayah Studi
No Lokasi Jumlah Curah Hujan ( mm ) Jumlah Hari Hujan Jumlah Tahun Rata-rata Curah Hujan per Tahun Rata-rata Hari Hujan per Tahun
1.
2.
3. Mijen
Tugu
Ngaliyan 64545
41693
50618 3357
2335
2636 29
26
29 2225,69
1603,58
1746,42 115,76
89,91
90,90
Jumlah 156856 8328 84 5575,69 296,57
Sumber : RDTRK 1996

Keadaan iklim menurut Schmidt – Ferguson
Penentuan jenis iklim Schmidt dan Ferguson dengan melihat rasio quantient iklim dan mencocokan dengan klasifikasi iklim yang mengunakan simbol A – H .
Tabel 2.1.3.2
Pembagian Iklim Berdasarkan Nilai Q
Simbol Quantient Keterangan
A > 14,3 Sangat Basah
B 14,3 – 33,3 Basah
C 33,3 – 60 Agak Basah
D 60 – 100 Sedang
E 100 – 167 Agak Kering
F 167 – 300 Kering
G 300 – 700 Sangat Kering
H 700 100 %
Bulan kering : curah hujan < 60 %
Bulan lembab : curah hujan 60 %- 100 %

Tabel.2.1.3.3
Data Curah Hujan Rata-rata Lokasi Studi Th.2000 (mm)
TAHUN / BULAN Ngaliyan Tugu Mijen
JANUARI 486 483 291
FEBRUARI 234 234 619
MARET 164 154 144
APRIL 138 136 113
MEI 285 283 69
JUNI 46 43 35
JULI 44 54 17
AGUSTUS 80 87 140
SEPTEMBER 147 157 55
OKTOBER 196 186 290
NOVEMBER 439 429 205
DESEMBER 202 202 415
Sumber : BPS Kotaamadya Semarang th 2000

2.1.5 Topografi
Topografi wilayah Semarang terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu dataran rendah yang terhampar di bagian Utara, dan daerah perbukitan yang terhampar di daerah Selatan. Pada dataran rendah kota Semarang ketinggian permukaan air lautnya berkisar 0 m dpl, sedangkan pada daerah perbukitan ketinggian permukaan air lautnya berkisar antara 50-350 m dpl. Pada bagian Selatan yaitu pada daerah perbukitan mempunyai kemiringan yang cukup tajam yaitu 45%, sedangkan pada daerah lain kemiringannya kurang dari 45%. Apabila diamati secara terperinci maka kondisi topografi kota Semarang ini tidaklah menguntungkan. Hal inilah yang dapat menghampat perkembangan wilayah pusat kota Semarang sebagai daerah pertumbuhan.

2.1.6 Daerah Aliran Sungai Wilayah Studi
DAS Beringin dan DAS Plumbon merupakan bagian dari sistem drainase kota Semarang yang terletak di bagian barat kota Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Kendal. DAS Beringin dan DAS Plumbon tersebut secara administratif merupakan bagian dari tiga kecamatan yaitu Ngaliyan, Tugu dan Mijen. Kecamatan tersebut diatas merupakan suatu daerah transisi yang belum mengalami perubahan perkembangan begitu banyak (Semarang Urban Development, 1997).
Kecamatan Tugu yang merupakan daerah hilir DAS Beringin dan Plumbon merupakan daerah yang rawan akan banjir. Banjir di kawasan kecamatan Tugu tersebut bukan merupakan banjir alami melainkan banjir kiriman. Banjir kiriman ini disebabkan oleh peningkatan debit air sungai yang begitu tinggi dan berkurangnya kapasitasnya pengaliran atau daya tampung saluran/sungai tersebut. Peningkatan debit sungai tersebut diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu DAS dan sungai yang mempunyai kemiringan terjal, serta didukung adanya perluasan lahan terbangun di wilayah DAS tersebut. Walaupun sebenarnya wilayah Kecamatan Tugu tersebut juga memiliki area banjir akibat rob (pasang air laut). Namun karena kondisi di daerah tersebut pada umumnya masih berupa tambak maka kondisi daerah tersebut masih aman bila terjadi hujan lebat walaupun ada sedikit yang mengalami penurunan.

2.2 Gambaran Umum Wilayah Studi
Kota Semarang terbagi menjadi 16 kecamatan yaitu Kec. Mijen, Kec. Gunungpati, Kec. Banyumanik, Kec. Gajahmungkur, Kec. Semarang Selatan, Kec. Candisari, Kec. Tembalang, Kec. Pedurungan, Kec. Genuk, Kec.Gayamsari, Kec. Semarang Timur, Kec. Semarang Utara, Kec. Semarang Tengah, Kec. Semarang Barat, Kec. Tugu, dan Kec. Ngaliyan.
Wilayah studi yang akan diambil meliputi 3 Kecamatan yang letak daerahnya saling berhubungan antara satu dengan yang lain yaitu Kecamatan Mijen, Kec. Ngaliyan, dan Kec. Tugu.
2.2.1 Gambaran Umum Kecamatan Ngaliyan
Wilayah Kecamatan Ngaliyan secara geografis terletak antara 619'00'' LS – 622'16'' LS dan 11053'11'' BT- 11060'11'' BT, yaitu di bagian barat Kota Semarang, dengan jarak ke pusat kota + 8 km, dengan luas wilayah 4394,90 Ha. Secara administratif, Kecamatan Ngaliyan termasuk dalam wilayah Kota Semarang, dengan batas wilayah administratif sebagai berikut:
 Sebelah Utara : Kec. Tugu
 Sebelah Selatan : Kec. Mijen
 Sebelah Barat : Kab. Kendal
 Sebelah Timur : Kec. Semarang Barat

Karakteristik pola aliran di Kecamatan Ngaliyan ditentukan oleh aliran Sungai Beringin yang merupakan batas fisik wilayah studi. Terdapat beberapa DAS yaitu Kali Lento, Kali Bringin, Kali Plumbon, Kali Demangan, Kali Layer, Kali Klambangan, Kali Mangkang, Kali Pandaan.
Wilayah Kecamatan Ngaliyan memiliki tinggi 48 m dpl sehingga termasuk ke dalam zona iklim dataran rendah tropis, dengan suhu rata- rata 27,3 C per tahun, suhu maksimum 34,0o C pada bulan September, dan suhu minimum 22,8o C pada bulan Agustus. Kelembaban udara relatif rata- rata di Kecamatan Ngaliyan sebesar 78 % selama satu tahun dengan curah hujan per tahun sebesar 2461 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 486 mm, dan terendah pada bulan Juli sebesar 44 mm dengan curah hujan terbanyak adalah 149 hari.
2.2.2 Gambaran Umum Kecamatan Tugu
Kawasan ini sangat potensial terhadap banjir karena topogafi Tugu yang datar, kedudukan daerah sebelum Tugu yaitu Kecamatan Ngaliyan yang lebih tinggi, serta Kecamatan Tugu dilalui oleh sungai- sungai yang menuju laut. Selain itu, keadaan jarinngan utilitas yang belum memadai ( misalnya jaringan air bersih, listrik, telepon), serta sifat drainase yang belum memadai, menimbulkan genangan/ banjir.
Kecamatan Tugu termasuk dalam bagian dari wilayah administrasi Kotamadya Semarang dengan batas wilayah sebagai berikut :
 Sebelah Utara : Laut Jawa
 Sebelah Selatan : Kec. Ngaliyan
 Sebelah Barat : Kab. Kendal
 Sebelah Timur : Kec. Semarang Barat

Secara administratif luas wilayah Kecamatan Tugu berdasarkan PP no 50/1992 adalah seluas 2942,826 Ha
2.2.3 Gambaran Umum Kecamatan Mijen
Wilayah Kecamatan Mijen secara geografis memiliki luas wilayah 57,54 Ha dengan jumlah penduduk 36.804 jiwa. Secara administratif, Kecamatan Mijen termasuk dalam wilayah Kota Semarang, dengan batas wilayah administratif sebagai berikut :
 Sebelah Utara : Kec. Ngaliyan
 Sebelah Selatan : Kab. Semarang
 Sebelah Barat : Kab. Kendal
 Sebelah Timur : Kec.Gunungpati
Topografi wilayah Kecamatan Mijen termasuk beragam, dengan kemiringan berkisar antara 2% – 20 %. Kondisi wilayah yang termasuk dataran tinggi menyebabkan Mijen beriklim lebih sejuk jika dibandingkan dengan iklim di pusat kota. Wilayah ini dilintasi oleh sungai-sungai yang cukup besar, yang berhulu dari Ungaran. Sungai-sungai tersebut adalah Sungai Blorong, Sungai Joho, dan Sungai Bringin. Sungai-sungai tersebut semuanya melintas di bawah jembatan pada jalan arteri nasional Semarang – Cirebon.
Tabel 2.2.3.1
Penggunaan Lahan Terbangun dan Tidak Terbangun di Kecamatan Mijen, Ngaliyan, dan Tugu

No Kelurahan 1995 1997 1999
Lahan terbangun Lahan tidak terbangun Lahan terbangun Lahan tidak terbangun Lahan terbangun Lahan tidak terbangun
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19. Mangkang Kulon
Mangunharjo
Mangkang Wetan
Randugarut
Karanganyar
Tugurejo
Podorejo
Wates
Beringin
Ngaliyan
Wonosari
Tambakaji
Gondoriyo
Kedungpane
Pesantren
Ngadirgo
Jatibarang
Mijen
Wonopolo 63.84
32.59
29.76
72.72
56.03
11.95
61.07
61.93
127.95
134.7
180.37
216.46
6.02
51.63
24.04
85.70
20.36
109.02
108.38 557.82
463.84
316.81
452.47
345.36
346.58
917.51
456.23
325.35
384.26
313.16
133.11
563.18
632.19
513.84
312.38
287.54
377.61
346.66 63.85
32.59
29.76
72.72
56.05
11.95
69.53
61.93
120.88
135.56
180.40
255.14
8.06
51.63
24.04
86.81
20.36
109.02
113.3 557.82
463.84
316.81
452.47
345.36
346.58
718.75
456.22
178.3
358.43
312.34
207.23
567.14
631.57
513.84
313.05
260.1
385.61
239.13
63.85
32.59
29.76
72.72
56.05
11.95
76.98
61.93
134.70
135.56
176.67
361.80
16.48
78.47
66.38
87.00
55.85
137.45
113.3 557.82
463.84
316.81
452.47
345.36
346.58
706.36
456.83
188.18
282.93
276.22
136.65
539.24
605.36
471.50
476.21
222.34
341.43
239.15

Jumlah 1454.52 8045.92 1503.58 7618.62 1769.49 7424.28
Sumber :BPS, BPN Kodya Semarang

2.2.4 Kondisi Penduduk di Wilayah Studi
Penduduk di wilayah studi yang meliputi Kecamatan Mijen, Ngaliyan, dan Tugu, khususnya yang dialiri oleh DAS Beringin dan Plumbon tergolong padat. Kepadatan penduduk ini merupakan akibat dari perluasan pada wilayah pinggiran yang dijadikan kawasan permukiman, yang didukung oleh banyaknya perumahan-perumahan baru yang elite. Konsentrasi wilayah penduduk ke wilayah pinggiran ini terjadi karena lahan di kota sudah tidak mampu lagi menampung aktifitas penduduk yang memerlukan lebih banyak ruang.

Tabel 2.2.4.1
Jumlah dan Kepadatan Penduduk DAS Beringin dan Plumbon
No Kelurahan Jumlah Penduduk Laju Pertumbuhan (%) Kepadatan Penduduk (jiwa/ha)
1987 1993 1995 1997 1999 1987 1993 1995 1997 1999
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19. Mangunharjo
Randugarut
Mangkang Kulon
Mangkang Wetan
Karanganyar
Tugurejo
Podorejo
Wates
Beringin
Ngaliyan
Tambakaji
Gondoriyo
Wonosari
Wonolopo
Mijen
Ngadiro
Pesantren
Jatibarang
Kedungpane 3761
775
2435
4127
1875
975
3651
1982
1825
6925
1018
1240
7177
4108
1363
2425
732
1325
2114 4376
948
2725
4502
2197
1258
4563
2453
3697
8470
1262
1451
9315
4562
2562
3168
870
1478
2744 4789
1079
2779
4533
2278
1479
4602
2533
4105
9217
1308
1503
10119
4660
3078
3165
949
1479
2826 4890
1120
2806
4565
2470
1595
5115
2805
5025
9825
1385
1570
11250
4785
3528
3567
963
1505
3173 4905
1130
2818
4580
2490
1617
5425
2983
6996
10252
1428
1641
11987
4955
3751
3668
971
1541
3183 1.6
2.49
0.47
0.24
1.77
3.58
2.45
2.78
9.34
2.71
1.75
1.14
3.59
1.16
5.48
2.07
1.55
0.59
2.09 0.13
1.66
6.09
11.9
4.36
3.69
0.33
5.16
5.67
13.12
2.99
3.83
22.18
10.17
2.88
4.94
0.93
7.56
5.40 9.07
2.04
6.85
12.99
5.10
5.20
4.12
6.42
11.48
16.05
3.07
3.90
28.80
11.29
5.41
6.46
1.28
6.50
4.71 9.93
2.23
6.90
13.08
5.30
9.60
4.16
6.63
12.75
17.50
3.18
4.05
31.30
11.50
6.50
6.45
1.40
6.52
4.85 10.14
2.40
7.05
13.17
5.70
10.39
4.63
7.34
15.60
18.60
3.44
4.23
34.6
11.8
7.44
7.26
1.42
6.60
5.44 10.17
2.43
7.10
13.21
5.80
10.50
4.91
7.81
21.40
19.40
3.47
4.42
37.00
12.30
7.92
7.48
1.43
6.80
5.46
44489 62601 77069 81653 86798 3.94 5.35 7.50 9.28 9.83 10.45

Sumber : BPS 1987, 1993,1995, 1997,1999 Jawa Tengah

3.1 Konsep Dasar
P
emahaman suatu teori merupakan titik dasar dari pemikiran sebuah proses kajian atau studi. Dengan memahami suatu kajian atau teori yang berkaitan dengan permasalahan perencanaan yang dikemukakan, maka analisis perencanaan akan semakin luas dan menfokuskan pada setiap sektor.
Sedangkan model matematika penyebab banjir genangan dituangkan dalam bentuk rumus sebagai berikut:
1. Q = C.I.A
Keterangan:
Q = debit banjir
C = koefisien air larian
I = intensitas hujan
A = luas area tingkapan hujan
Penyebab banjir genangan ini akan semakin sering jika koefisien air larian bertambah besar. Penyelesaian banjir secara teknis didahului dengan meluapnya air dari sungai yang dilebarkan kemudian terjadi pendangkalan sungai. Hal ini menyebabkan air sungai menjadi keruh, untuk menanggulanginya masyarakat sekitar mengeruk sungai tersebut secara berulang-ulang sehingga memakan biaya yang tidak sedikit.
2. Banjir = f (PA,UM)
Keterangan :
PA = penyebab banjir alamiah
UM = ulah manusia

Penyebab banjir dibagi menjadi dua bagian, yaitu penyebab banjir yang terjadi secara alamiah dan penyebab banjir yang terjadi karena ulah manusia.
Penyebab banjir secara alamiah, dapat terjadi pada waktu hujan lebat sedangkan penampang sungai tidak mencukupi untuk mewadahi sehingga air tersebut meluap dan terjadilah banjir. Sedangkan banjir yang diakibatkan oleh ulah manusia dalam hal ini lebih ditekankan pada peningkatan kepadatannya atau populasinya. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan kan manusia akan barang pun meningkat yang akibatnya dapat berupa kepadatan barang sisa atau sampah dan kepadatan bangunan. Sampah disini dapat mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada saluran air sedangkan bangunan dapat meningkatkan jumlah air larian yang secara otomatis mengurangi jumlah air resapan atau simpanan sehingga bahaya banjir pun tak terelakkan.
3. C = f (populasi, land use)
Jika koefisien air larian (C) meningkat maka populasi manusia akan meningkat. Begitu juga dengan land use (urban) akan meningkat apabila koefisien air larian juga meningkat. Dan sebaliknya jika land use (non urban) menurun maka koefisien air larian menjadi semakin rendah.
4. Banjir = f (populasi manusia, luasan area terbangun)
Perubahan jumlah penduduk yang semakin padat menyebabkan perubahan luasan area terbangun. Pada perubahan luasan area terbangun inilah yang menyebabkan banjir pada daerah studi, dikarenakan lahan yang pada awalnya diperuntukkan sebagai kawasan penyangga berubah guna menjadi kawasan terbangun.

3.2 Penggunaan Lahan
Suatu lahan pada daerah perkotaan yang berfungsi sebagai wadah bagi segala kegiatan fungsional penduduknya dibagi menjadi 6 (enam) kategori utama (Yates and Garner, 1980, hal 185), yaitu : perumahan, industri, komersial, jalan, fasilitas pelayanan umum, dan lahan kosong. Semua faktor yang tersebut diatas merupakan komponen guna lahan yang memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
Penggunaan lahan dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu lahan terbangun dan lahan tak terbangun. Penggunaan lahan dikatakan lahan terbangun jika menggunakan lahan perkotaan (urban) sedangkan lahan non urban merupakan lahan yang tidak terbangun. Klalsifikasi lahan terbangun dan lahan yang tidak terbangun menurut beberapa literatur yaitu:

Tabel 3.2.1
Klasifikasi Lahan Terbangun dan Tak Terbangun
No Sumber Jenis Guna lahan Seleksi Guna Lahan
1. F. Stuart Chapin Jr • Aktifitas ekstraksi
• Aktifitas pengelolaan
• Aktifitas transportasi, komunikasi, dan utilitas
• Aktivitas distribusi (perdagangan)
• Aktifitas jasa
• Aktifitas kes
• ejahteraan manusia, rekreasi dan pelayanan masyarakat
• Aktifitas permukiman
• Dan non aktifitas Lahan terbangun:
• perdagangan
• industri
• jasa
• dan permukiman
Lahan tidak terbangun:
• ekstraksi
• rekreasi
• non aktifitas
2. Rhind dan Hudson • permukiman
• industri
• transportasi, komunikasi, utilitas
• perdagangan
• budaya, hiburan, rekreasi
• produksi dan penambangan sumber daya Alam (SDA)
• Lahan tidak terbangun
• Area perairan Lahan terbangun:
• industri
• permukiman
• perdagangan
• jasa
Lahan tak terbangun:
• area perairan
• produksi dan penambangan SDA
3. Holi BW Daerah tebangun :
• permukiman
• industri
• komersial
• intitusi
Daerah tak terbangun :
• Aktivitas kota : rekreasi, transportasi, kuburan, ruang terbuka hijau.
• Non aktifitas kota : pertanian, kebun area perairan Lahan terbangun :
• permukiman
• industri
Lahan tidak terbangun :
• Aktifitas kota : kuburan, rekreasi, transpotasi, ruang terbuka hijau
• Non aktifitas kota : pertanian, kebun, area perairan.
Sumber : Rudiarto, 1998.

Perubahan penggunaan lahan khususnya pada daerah perkotaan di suatu kawasan ditandai dengan adanya perubahan dari lahan kosong menjadi tempat aktifitas manusia, atau dari penggunaan lahan tak terbangun menjadi lahan terbangun.
Perubahan penggunaan lahan, terutama lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun memiliki dampak terhadap konversi hidrologi wilayah tersebut . Hal ini merupakan salah satu dampak penting yang terjadi akibat proses transformasi lahan karena peralihan ini terkait dengan peningkatan volume pengambilan air tanah yang diiringi dengan penurunan volume air yang masuk akibat perubahan rona kawasan dari sebuah lansekap kosong (pertanian) menjadi kawasan yang penuh dengan bangunan fisik perkotaan. Selain itu mengakibatkan peningkatan erosi dan sedimentasi yang kemudian sedikit demi sedikit akan meningkatkan resiko terjadinya banjir.
3.3 Pengertian Istilah
3.3.1 DAS (Daerah Aliran Sungai)
Daerah aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung-punggung gunung tersebut dan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama .
DAS sendiri dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu daerah hulu, daerah tengah dan daerah hilir.
Daerah hulu DAS memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
 merupakan daerah konservasi
 mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi
 merupakan daerah dengan kemiringan lebih besar dari 15 %
 bukan merupakan daerah rawan banjir
 pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase
Daerah hilir DAS memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
 merupakan daerah pemanfaatan lahan
 mempunyai kerapatan yang lebih kecil disbanding daerah hulu DAS
 merupakan daerah dengan kemiringan kurang dari 8%
 pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan)
 pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi.
Sedangkan DAS bagian tengah merupakan derah transisi dari kedua keadaan atau kondisi DAS yang berbeda tersebut di atas (daerah huku DAS dan daerah hilir DAS).
DAS bagian hulu merupakan daerah yang melindungi seluruh bagian DAS.Oleh karena itu perencanaan DAS hulu sering kali menjadi tolak ukur dan focus utama perencanaan menggingat daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.

Tabel 3.3.1.1
Kondisi Daerah Aliran Sungai Pada Wilayah Studi
No Kecamatan Luas Wilayah ( Ha) Daerah Aliran Sungai (DAS) Luas Terbangun (Ha) Klasifikasi DAS
Rentang tinggi (m) Gradien Sungai (%)
1.
2.
3. Mijen
Ngaliyan
Tugu 6214,200
3,274
3,121 K.Garang&Silandak
S.Silandak-Beringin
S.Silandak-Beringin 595,000
1,018
306,000 75 – 100
50 – 75
30%
Rata dan kedap air 0.70-0.90
Kasar 0.50-0.70
Sumber : Asdak, 1995 hal 155

Angka atau nilai koefisien air larian merupakan salah satu faktor indikator yang berguna untuk mengetahui gangguan berupa gangguan fisik yang dialami oleh daerah aliran sungai di kawasan atau wilayah studi. Jika nilai C sangat besar, hal ini menunjukkan bahwa lebih banyak air hujan menjadi air larian. Jika hal ini dilakukakan terus menerus maka daerah tersebut akan mengalami :
Besarnya air yang akan menjadi air tanah semakin berkurang dari hari ke hari jika ditinjau dari segi pencagaran Sumber Daya Air (SDA),
Jika jumlah air hujan yang menjadi air larian menjadi lebih besar dan terus meningkat maka akan mengakibatkan daerah tersebut dan sekitarnya mengalami ancaman tentang akan terjadinya erosi bahkan banjir yang besar.
Angka C berkisar antara 0 sampai 1. Penjelasannya yaitu bahwa angka 0 (nol) menunjukkan bahwa air hujan terdistribusi menjadi air yang terinfiltrasi. Sedangkan angka 1 (satu) menunjukkan bahwa air hujan mengalir sebagai air larian.
3.3.3 Banjir
Banjir adalah peristiwa terjadinya genangan pada lahan yang biasanya kering (bukan daerah rawa) sebagai akibat terjadinya lintasan air dari sungai yang disebabkan debit yang mengalir di sungai melampaui kapasitas pengalirannya. Pengertian lain mengatakan bahwa banjir merupakan suatu luapan sungai yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu sungai, kemudian karena kapasitas sungai tidak mampu menyalurkan air ke hilirnya sehingga akan meluap ke daerah sekitarnya .
Pengertian lain mengatakan bahwa banjir adalah luapan sungai yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di daerah hulu sungai, kemudian karena kapasitas sungai tidak mampu menyalurkan air ke hilirnya, sehingga akan meluap ke daerah sekitarnya . Banjir juga disebabkan oleh besarnya volume air larian pada suatu daerah yang melampaui daya tampung atau kapasitas air yang tertampung di daerah tersebut.
Masalah banjir adalah masalah yang menyangkut lingkungan hidup dan terjadinya banjir merupakan akumulasi dari beberapa faktor penyebab yang luas dan komplek. Faktor penyebab banjir dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penyebab banjir yang bersifat alamiah dan penyebab banjir karena adanya pengaruh manusia yang melakukan kegiatan atau aktivitas disekitar daerah aliran sungai.
Yang lebih sering terjadi di daerah perkotaan adalah masalah genangan dan masalah drainasenya, disebabkan karena :
a. daerah yang dahulu digunakan sebagai tempat air sementara (retardin basin ) telah berubah menjadi daerah permukiman
b. tidak tersedianya tempat pembuangan sampah sehingga menghambat fungsi drainase pada daerah perkotaan
c. penyedotan air tanah dalam (deep well) melebihi kemampuan pemulihan (recharge).
Sedangkan penyebab banjir di wilayah perkotaan antara lain :
 fasilitas pengendalian banjir yang belum memadai
 perilaku masyarakat dalam menggunakan suatu lahan ataupun ruang
 membuang sampah ke badan sungai dan saluran drainase
 penyedotan air tanah yang melebihi kapasitas pemulihan sehingga menimbulkan penurunan permukaan tanah
 menempati atau membangun tempat tinggal di daerah yang rawan banjir.
Kondisi alam yang dapat menimbulkan masalah banjir antara lain :
 letak geografis lahan yang berada di dataran rendah, sehingga rawan genangan dan banjir
 pembendungan aliran sungai akibat adanya pendangkalan alur/ambal alam di dasar sungai dan penyempitan
 sedimentasi pada dasar sungai dan bantaran sungai yang mengurangi luas tampung basah sungai
 curah hujan yang tinggi
 terjadinya kenaikan muka air laut akibat pemanasan global
 terjadinya amblesan permukaan tanah di daerah alluvial plain
 pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat, yang memerlukan berbagai fasilitas dan kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap terjadinya masalah banjir
 pembangunan di daerah dataran banjir untuk kawasan pemukiman, industri, dan untuk kepentingan lainnya, berakibat semakin berkurangnya luas daerah retensi banjir alamiah, sehingga besar debit air yang mengalir semakin meningkat
 tanaman di bantaran sungai (lahan antara tanggul dan tebing sungai) dapat mempersempit penampang basah sungai sehingga mengurangi kapasitas pengaliran banjir
 sampah padat yang dibuang ke saluran dan sungai menimbulkan pendangkalan dan penyempitan alur serta menghambat aliran, banyak dijumpai hampir di seluruh sungai yang melewati daerah perkotaan
 terbatasnya pengertian masyarakat terhadap masalah banjir dan upaya mengatasi sehingga berbagai kegiatan kurang men dukung pengurangan masalah.

3.4 Variabel Penyebab Banjir
Variabel-variabel yang mempengaruhi terjadinya banjir yaitu:
Koefisien air larian
Intensitas hujan
Luas area tingkapan hujan
Penyebab banjier alamiah
Ulah manusia
Land use (pengunaan lahan)
Populasi manusia
Luas area terbangun

4.1 Korelasi Antara Jumlah Penduduk Dan Luas Lahan Terbangun
Pengaruh jumlah penduduk terhadap luas lahan terbangun dihitung dengan metode statistik regresi linier sederhana. Dalam hal ini dependent variabelnya adalah lahan terbangun, sedangkan variable X adalah jumlah penduduk.
Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara jumlah penduduk dan luas lahan terbangun. Nilai koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut adalah 0,914. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,835. Ini menunjukkan 83,5 % luas lahan terbangun dapat dijelaskan oleh variabel jumlah penduduk. Sedangkan 16,5% lainnya Dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Nilai korelasi yang mendekati 1 menunjukkan bahwa luas lahan terbangun sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk atau dapat diartikan jika jumlah penduduk meningkat maka luas lahan terbangun juga meningkat. Hasil tersebut secara signifikan dapat dilihat dalam persamaan regresi :
Y’=-2440593 + 208,522X
Peningkatan luas lahan terbangun tidak hanya digunakan untuk permukiman saja, tetapi juga digunakan untuk aktivitas manusia yang lain, misalnya industri, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan rekreasi. Selain adanya peningkatan lahan terbangun juga diakibatkan akan kebutuhan manusia seiring dengan perkembangan jaman baik di dalam kehidupan sosial, budaya maupun ekonomi.
Pembangunan dikawasan pinggiran ini dipacu oleh adanya lahan non terbangun yang masih luas. Selain itu topografinya yang cukup tinggi dan hawanya yang lebih sejuk menjadi pilihan sebagai lokasi pemukiman yang baru. Kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah bahwa BWK IX dan X ( Mijen, Ngaliyan, dan Tugu ) difungsikan sebagai kawasan pemukiman dan industri turut memicu berkembangnya area lahan terbangun dikawasan ini. Fenomena ini sebagai pemicu terjadinya banjir genangan di kawasan tersebut.

4.2 Analisis Korelasi Antara Luas Genangan dan Luas Lahan Terbangun
Peningkatan koefisien run off sebagai akibat dari peningkatan lahan terbangun, akan menyebabkan debit banjir semakin meningkat. Terjadinya peningkatan debit banjir akan menimbulkan luas genangan banjir semakin meningkat pula.
Pengaruh luas genangan terhadap luas lahan terbangun dihitung dengan metode statistik regresi linier sederhana. Dalam hal ini dependent variabelnya adalah luas genangan, sedangkan variable X adalah luas lahan terbangun. Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara jumlah penduduk dan luas lahan terbangun. Nilai koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut adalah 0,947 Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,896. Ini menunjukkan 89,6% luas genangan dapat dijelaskan oleh variabel luas lahan terbangun. Sedangkan 10,4 % lainnya dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Nilai korelasi yang mendekati 1 menunjukkan bahwa luas genangan sangat dipengaruhi oleh luas lahan terbangun atau dapat diartikan jika luas lahan terbangun meningkat maka luas genangan juga meningkat. Hasil tersebut secara signifikan dapat dilihat dalam persamaan regresi
Y’=-7171627+ 1,044 lahan terbangun
Luas genangan yang terjadi di kawasan ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Luas genangan di permukaan makin meluas karena daya tampung sungai tidak mencukupi lagi, sehingga air meluap keluar sungai dan menggenangi jalan, pemukiman, dan kawasan lainnya. Selain itu banjir ini juga disebabkan oleh jarangnya vegetasi yang menutupi permukaan tanah yang berfungsi untuk menyerap air. Hal ini dapat dilihat dari kasus penebangan pohon karet pada kawasan penyangga yang dialihfungsikan menjadi kawasan terbangun.
4.3 Analisis Korelasi Luas Genangan dan Jumlah Penduduk
Pengaruh luas genangan terhadap jumlah penduduk dihitung dengan metode statistik regresi linier sederhana. Dalam hal ini dependent variabelnya adalah luas genangan, sedangkan variable X adalah jumlah penduduk
Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara jumlah penduduk dan luas lahan terbangun. Nilai koefisien korelasi antara kedua variabel tersebut adalah 0,872. Sedangkan koefisien determinasi adalah 0,760. Ini menunjukkan 76% luas genangan dapat dijelaskan oleh variabel jumlah penduduk. Sedangkan 24 % lainnya dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Nilai korelasi yang mendekati 1 menunjukkan bahwa luas genangan sangat dipengaruhi oleh jumlah penduduk atau dapat diartikan jika jumlah penduduk meningkat maka luas genangan juga meningkat. Hasil tersebut secara signifikan dapat dilihat dalam persamaan regresi :
Y’=-9832390 + 219,427 jumlah penduduk
Dari jumlah penduduk dapat dilihat bahwa tiap tahun jumlahnya meningkat, sehingga membutuhkan lahan yang lebih luas yang difungsikan untuk aktivitas manusia. Selain itu akibat dari aktifitas-aktifitas manusia tersebut menghasilkan sampah. Sampah-sampah tersebut apabila tidak dikelola dengan baik, maka akan menimbulkan penyumbatan pada saluran-saluran air dan sungai. Karena banyaknya lahan yang digunakan untuk aktivitas penduduk, maka keberadaan ruang terbuka semakin berkurang. Sementara itu lahan yang sedikit tersebut tidak mempunyai vegetasi yang cukup untuk menyerap air limpahan dari sungai yang tak dapat menampung air dalam jumlah besar. Akibatnya terjadi genangan pada lahan yang tidak tertutup oleh vegetasi.

4.4 Analisis Korelasi Jumlah Penduduk, Luas Lahan Terbangun dengan Luas Genangan.
Dari hasil analisis statistik dapat diketahui bahwa koefisien determinasi dari konstanta jumlah penduduk dan luas lahan terbangun sebesar 0,897. Ini berarti pengaruh luas lahan terbangun dan jumlah penduduk dapat menjelaskan sebesar 89,7% terjadinya banjir/genangan.
Besarnya pengaruh jumlah penduduk dan luas lahan terbangun terhadap terjadinya banjir ini disebabkan oleh makin meningkatnya aktifitas penduduk di berbagai bidang.
Di bidang industri aktifitas manusia semakin bertambah yang ditandai dengan banyaknya bangunan pabrik yang berlokasi di sekitar wilayah aliran sungai. Pembangunan lokasi industri sangat membahayakan bagi lingkungan karena cara pembangunannya yang mengabaikan lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilihat dari makin luasnya areal pemaprasan bukit di wilayah studi yang dijadikan sebagai lokasi industri. Aktiiftas pengeprasan bukit ini bisa menimbulkan terjadinya tanah longsor dan banjir.
Dalam pembangunan kawasan permukiman manusia sering mengabaikan keselamatan lingkungan. Mereka membabat kawasan konservasi untuk dijadikan wilayah perumahan.
Luasan area terbangun baik di daerah hulu maupun hilir sungai serta pada daerah-daerah yang seharusnya merupakan kawasan konservasi adalah suatu bentuk penyalahgunaan lahan yang menyebabkan meluasnya genangan banjir di daerah studi dari tahun ke tahun. Pendangkalan sungai dan erosi ikut mempengaruhi terjadinya banjir di daerah studi.

5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan dari laporan tugas Analisis Sumber Daya dan Lingkungan yaitu:
Peningkatan jumlah penduduk di wilayah studi cukup tinggi jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan Kota Semarang.
Laju peningkatan luas lahan terbangun tidak manunjukkan peningkatan yang mencolok. Hal ini disebabkan para developer mulai saling berlomba untuk dapat membangun kawasan permukiman baru yang menempati lahan-lahan kosong di daerah perbukitan.
Korelasi antara jumlah penduduk dan luas lahan terbangun menunjukkan hubungan yang signifikan. Jika terjadi peningkatan jumlah penduduk akan mengakibatkan bertambahnya luas lahan terbangun
Korelasi antara luas area terbangun dan luas genangan banjir menunjukkan hubungan yang cukup erat. Ini berarti luas genangan banjir dipengaruhi oleh luas lahan terbangun.

5.2 REKOMENDASI KASUS
Adanya perubahan fungsi lahan di wilayah studi pada umumnya memberikan dampak positif maupun dampak negatif bagi masyarakat sekitar. Dapat positif dapat dirasakan oleh banyak pihak seperti terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal, kemudahan sarana dan prasarana penunjang kehidupan. Sedangkan dampak negatifnya yakni membawa penderitaan bagi penduduk seperti banjir yang menyebabkan kerugian material yang tidak sedikit. Oleh karena itu diperlukan upaya – upaya agar dampak negatif yang ada dapat dihilangkan atau setidaknya dapat diminimalisir. Berdasarkan kondisi–kondisi yang ada tersebut, rekomendasi ini sekiranya dapat dijadikan masukan terhadap permasalahan–permasalahan yang ada.
5.1.1. Rekomendasi Umum
Peraturan Pemerintah mengenai tata ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Kota Semarang, supaya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada.
Usaha pengendalian dan penanganan banjir di wilayah studi harus ditangani secara konsepsional, menyeluruh, dan tuntas di seluruh DAS, mulai dari hulu sampai hilir. Penanganan dan pengendalian tersebut tidak dilakukan di daerah hilir saja, misalnya dengan normalisasi sungai, tetapi juga di daerah hulu dan tengah DAS yang saat ini sedang mengalami pengembangan menjadi daerah permukiman dan industri. Selain itu juga perlu dilakukan pengendalian dari segi non fisik, khususnya pada upaya peningkatan peran serta dan tanggung jawab manusia.
Adanya konservasi lahan, karena banjir di sekitar DAS terjadi akibat erosi pada tingkat dan saat tertentu. Hal tersebut dapat ditanggulangi dengan penghijaun
Adanya penataan DAS untuk pengendalian banjir kiriman.
Relokasi permukiman di sekitar sungai Bringin atau normalisasi sungai.
5.1.2 Rekomendasi Untuk Pemerintah
Pemeliharaan saluran drainase atau sungai di DAS Bringin yang dilakukan secara terus menerus dan berkala.
Diperlukan adanya koordinasi antara instansi yang satu dengan yang lain yang saling terkait dalam penentuan, pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan sungai-sungai penyebab banjir di DAS Bringin dan Plumbon.
Adanya pembabatan areal perkebunan atau hutan yang digunakan untuk pembangunan kawasan seperti kawasan permukiman atau industri sebagai usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terus menerus bertambah, perlu diimbangi dengan adanya suatu usaha konservasi (pembuatan daerah hijau).
Perlunya Badan atau Instansi yang secara khusus menangani atau mengelola DAS, karena di Indonesia untuk Badan atau Instansi yang mengelola DAS berbeda-beda, didasarkan atas batas-batas politis atau administrasi sehingga mempunyai wewenang sendiri-sendiri dalam menangani pengelolaan sumber daya alam. Atau alternatif lain dilakukan penyamaan misi dalam menangani pengelolaan hal-hal yang menyangkut dengan keberadaan DAS yang terkait.
5.1.3 Rekomendasi Untuk Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam gerakan penghijauan pada lahan-lahan kosong, lahan-lahan dengan kelerengan curam, dan di pekarangan rumah, untuk memperkecil koefisien air larian yang ada.
Pemeliharaan kebersihan lingkungan yang terutama dilakukan dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, khususnya di saluran pembuangan air atau sungai.
Mengurangi dampak banjir dengan mene mpatkan karung-karung berisi pasir di pinggir-pinggir sungai sebagai penahan air yang meluap dari dalam sungai supaya tidak terlalu banyak yang keluar jalan menggenangi atau rumah-rumah penduduk.

DAFTAR PUSTAKA

Rencana Detail Tata Ruang Kota BWK X – Analisis tahun 1995 – 2005. Bappeda Semarang, 1995.
Rosalina, Puteri. 2000. “Pengaruh Pertambahan Jumlah Penduduk dan Perluasan Area Terbangun Terhadap Banjir”. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Undip Semarang.
Buku data Kecamatan Ngaliyan. Bappeda Tk II Kotamadya Semarang, kantor Pertanahan Kotamadya Semarang, 1998.
Formulir isian Monografi Kecamatan Ngaliyan. 2000.

A. Mengenai Otak
Otak sangat penting dalam kehidupan manusia. Saat di dalam rahimpun otak tumbuh dan berkembang membentuk neuron – neuron yang berguna untuk mengingat dan mengetahui banyak hal. Otak tidak tumbuh sendiri, namun memerlukan banyak stimulasi yang mendorong otak tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Pada keluarga yang memang menginginkan anak mereka tumbuh secara maksimal baik secara fisik maupun non fisik, layak untuk mempertimbangkan fungsi otak pada masa emasnya. Gizi yang cukup dan kebutuhan kasih sayang amat diperlukan oleh bayi yang sedang berada dalam masa kritis perkembangan emasnya. Saya pernah membaca di berbagai literatur, bahwa masa keemasan anak berkisar antara 0 – 3 tahun. Namun ada juga literatur yang mengatakan bahwa golden age anak terjadi pada usia 0 – 6 tahun. Yang bener yang mana ya? Wah klo itu saya kurang tau. Tapi saya mengambil kesimpulan sendiri bahwa golden age pada masa anak berumur 0 – 6 tahun. Saya berpikir jika saya konsentrasi pada perkembangan anak sejak dini, kemungkinan anak lebih tau dulu mengenai hal-hal yang terjadi di lingkungannya bahkan di dunia.
Oleh karena itu saya tidak lupa untuk memberikan banyak nutrisi kepada anak agar otak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Kebutuhan akan nutrisi otak diberikan melalui susu dan multivitamin yang dijual dipasaran. Multivitamin saya berikan dari anak mulai berumur 1 bulan. Mengapa? Karena saya takut, otak tidak berkembang optimal, dan takut susu tidak dapat mencover kebutuhan nutrisi pada otak anak saya.
Hal ini saya lakukan setelah saya membaca berbagai literatur. Orang tua saya tidak tau akan hal ini. Mengapa saya tidak diskusi dengan orang tua yang mungkin jauh lebih pengalaman daripada saya? Jawabannya adalah saya hanya ingin yang terbaik bagi anak saya. Saya melihat dan membaca apa saja pengalaman dari ibu-ibu, bahkan orang tua saya. Namun langkah yang saya ambil adalah dengan memperhatikan apa yang terbaik buat anak. Dan ternyata saya benar, saya dapatkan sesuatu hasil maksimal dari pemberian nutrisi otak dengan multivitamin.

B. Mengenai Perkembangan Anak
Perkembangan anak dimulai dari bayi hingga menginjak dewasa, wow saya namakan ini mukzizat dari Tuhan. Bener-bener mencengangkan. Mereka berusaha untuk bisa dan terus bisa. Dari mulai perkembangan sederhana sampai dengan perkembangan yang lebih rumit. Saya kagum. Perkembangan anak mulai hanya merengek dan tidur di tempat tidur sampai bisa merangkak, berjalan, dan mulai belajar menulis dan membaca.
Anak yang baru saja dilahirkan, seolah-olah seperti makhluk luar angkasa yang tidak seperti ayah dan bundanya. Mungkin anak menangis karena ada sesuatu yang lain dengan dunia barunya. Soalnya lama di rahim sie… Hehehe… Kan gelap dan cuma mengenal satu suara, yaitu suara ibunya. Trus keluar eh banyak orang, ya takuuut lah… trus ujung-ujungnya mennagis. Hua…..hua….
Tapi dengan berjalannya waktu mereka belajar dan belajar sehingga bisa seperti ayah dan bundanya.
Anak saya akan menginjak 2 tahun. Wow perkembangannya luar biasa. (Menurut saya loh, kan saya ibunya, heheh….)

Umur 3 bulan sudah tengkurap….
Umur 1 th lebih 1 bulan baru bisa berjalan…
Umur 16 bulan sudah bisa meniup terompet…
Umur 18 bulan sudah bisa mengucap kata cuma 50 kata….
Umur 20 bulan sudah bisa menyanyi….
dan sekarang umur 21 bulan sudah mulai bisa mewarnai….

C. Pendidikan Anak
Pendidikan anak saya lakukan mulai anak mulai dapat melihat yaitu saat dia baru berumur 0 bulan. Terlalu dini?
Saya memberikan stimulasi secara terus menerus sejak dini… Mulai dari flash card, vcd edukasi sampai komputer untuk anak. Saya beri selang seling. Maksudnya hari ini mengenai hewan, besok mengenai belajar bentuk, lusa mengenai anggota tubuh, dll.
Saya lakukan 3x sehari. Tidak pernah berhenti. Pagi… Siang dan Sore…
Saya cuma berpikir, anak jika sudah besar itu biasanya hanya suka nonton tv. Itu mungkin dampak dari pengasuh yang suka nonton tv, jadi anak kecenderungan untuk menonton tv. Atau agar tidak rewel trus anak disuruh menonton tv, supaya pengasuh bisa melakukan hal-hal lain seperti memasak atau pekerjaan rumah lainnya.
Jadi saya selalu bilang dengan pengasuh bahwa bisa menonton tv setelah anak melihat vcd pendidikan. Hasilnya luar biasa….!!!
Saya senang dan saya kagum dengan apa yang diberikan Tuhan.. Termasuk kecerdasan yang dimilikinya. Itu semua karena ridho darimu ya Allah…
Oleh karena itulah saya selalu berdoa dan berusaha agar anak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Pendidikan yang optimal. Ada yang pernah bilang kepada saya, anak jangan dipaksa untuk melihat sesuatu dengan memaksakan kehendak.
Namun saya melihat perkembangan otak anak sangat luar biasa. Sungguh luar biasa. Jika tidak dimanfaatkan kita akan rugi besar, karena anak adalah generasi penerus yang seharusnya memiliki kemampuan berpikir lebih dan lebih dari ayah bundanya. Ada seorang ahli yang berkata bahwa anak umur 2tahun memiliki otak sebesar 75% dari orang dewasa. Karena latar belakang itulah maka saya tetap menstimulasi anak saya walopun dengan cara yang berbeda. Karena anak bukan sesosok manusia dewasa dengan ukuran mini. Anak tetap anak, sehingga metode yang diajarkan dengan bermain sambil belajar.